Skip to main content

Teknik Penetapan Harga yang diterapkan Wirausaha untuk Produk yang Telah Eksis

Berikut ini adalah teknik penetapan harga yang diterapkan wirausaha untuk produk yang telah eksis (Scarborough & Cornwall, 2015; Kuratko dan Hornsby, 2009; Kotler dan Keller, 2009):

Teknik penetapan harga

1. Penetapan harga ganjil (odd pricing). 

Wirausaha menetapkan harga di bawah angka yang bulat. Sebagai contoh, daripada menetapkan harga Rp 3.000,00, wirausaha lebih menyukai Rp 2.990,00 atau Rp 2.995,00. Strategi ini didasarkan atas kepercayaan bahwa pelanggan mempersepsikan bahwa harga ganjil jauh lebih murah daripada harga dengan angka bulat. Beberapa studi menunjukkan bahwa penetapan harga yang memanfaatkan psikologis konsumen ini efektivitasnya tidak konsisten. Studi tersebut memperlihatkan bahwa teknik ini kurang berhasil, sementara studi lainnya menunjukkan adanya peningkatan penjualan yang signifikan.

2. Penetapan harga lini (lining pricing). 

Wirausaha mengelompokkan produk yang ditawarkan ke dalam beberapa rentang harga atau lini yang berbeda beda berdasarkan kualitas, biaya, kinerja, atau ciri-ciri lainnya. Misalnya produk dikelompokkan ke dalam tiga golongan kualitas yaitu: baik, lebih baik, dan terbaik, untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan segmen pasar yang berbeda. Penetapan harga ini amat menguntungkan. bagi wirausaha karena menyediakan produk untuk berbagai tingkat pelanggan dan menyederhanakan keputusan membeli bagi pelanggan.

3. Penetapan harga pemimpin (leader pricing). 

Wirausaha menurunkan harga produk yang populer untuk menarik lebih banyak lagi pelanggan. Harga produk yang lebih murah tentunya akan mengurangi profit yang diperoleh, tetapi pelanggan diharapkan terdorong untuk membeli produk lain. Pembelian produk lain tersebut akan menaikkan penjualan dan profit secara keseluruhan.

4. Penetapan harga geografis. 

Wirausaha menetapkan harga kepada pelanggan berdasarkan tempat tinggal mereka. Penerapannya disebut penetapan harga zona (zone pricing), yaitu wirausaha menjual produk pada harga yang berbeda untuk pelanggan di wilayah yang berbeda. Variasi lain adalah menetapkan harga yang sama untuk semua pelanggan di tempat yang berbeda tetapi membebankan biaya pengiriman atau penjualan yang berbeda berdasarkan wilayah. Teknik ini disebut penetapan harga terkirim (delivered pricing).

5. Penetapan harga oportunistis. 

Wirausaha menetapkan harga yang lebih tinggi kepada pelanggan karena produk yang ditawarkan mengalami kelangkaan. Dengan cara ini wirausaha dapat memaksimalkan keuntungan jangka pendek. Wirausaha harus berhati-hati karena pelanggan akan mengetahui bahwa mereka dimanfaatkan dengan penetapan harga yang "tak masuk akal".

6. Potongan harga. 

Wirausaha melakukan pengurangan harga dari harga normal dengan harapan dapat mendongkrak penjualan. Potongan harga dapat dilakukan secara musiman (seasonal discount), yaitu potongan harga yang dirancang untuk mendorong pelanggan membeli produk sebelum datang musim berikutnya. Misalnya coklat untuk hari Valentine yang diberikan diskon begitu memasuki tanggal 14 Februari. Potongan harga lain adalah special group discounting, quantity discount, dan cash discount. Special group discounting ditujukan untuk sekelompok pelanggan lama. atau khusus dengan maksud memelihara kesetiaan mereka terhadap produk perusahaan. Quantity discount adalah potongan harga yang diberikan semakin besar seiring dengan makin besarnya jumlah penjualan sedangkan cash discount adalah pengurangan harga jika pembayaran dilakukan secara tertentu, misalnya dengan uang tunai daripada kartu kredit.

7. Pemaketan (bundling). 

Wirausaha menetapkan harga dengan mengelompokkan beberapa produk ke dalam satu paket yang menawarkan kepada pelanggan nilai ekstra dengan harga khusus. Dolan dan Simon (1996) mengemukakan bentuk-bentuk penetapan harga dengan metode ini, yaitu:

  • Pure price bundling. Wirausaha hanya menawarkan produk yang dipaketkan dan tidak dijual secara terpisah.
  • Mixed price bundling. Wirausaha menawarkan produk yang dipaketkan dan juga dijual secara terpisah. Harga ditetapkan untuk produk individu dan produk paket. Microsoft menggunakan bentuk ini ketika menawarkan paket "Office". Alternatif lain, potongan harga diberikan untuk pembelian produk yang kedua, jika produk pertama dijual dengan harga normal. 
  • Tie-in sales. Wirausaha menjual barang utama (tying good) kepada konsumen yang setuju untuk membeli barang komplementer (tied good), yang sangat berkaitan erat dengan barang utama, dari penjual yang sama. Barang utama bersifat tahan lama dan barang komplementer bersifat tidak tahan lama. Contoh: printer (tying good) dan toner (tied good), paket ponsel murah (tying good) dan aktivasi dengan biaya murah (tied good) jika konsumen sepakat untuk berlangganan pada periode tertentu. 
  • Sales rebates. Wirausaha memberikan potongan penjualan akhir tahun kepada konsumen. Bonus ini diberikan untuk meningkatkan loyalitas pelanggan.
  • Cross couponing. Di Amerika, produsen barang manufaktur sering memberikan kupon untuk mempromosikan produk lain yang masuk dalam bauran produk yang ditawarkannya. Misalnya Coca Cola memberikan kupon kepada konsumennya untuk promosi produk Diet Minute Maid pada produk Diet Coke. Teknik ini sering digunakan untuk memperkenalkan produk baru dan/atau meningkatkan produk yang lemah penjualannya dengan mengaitkannya dengan produk yang telah mapan. Sekilas mirip dengan pemaketan. Dalam contoh ini, konsumen Diet Coke menukarkan kupon untuk pembelian Diet Minute Maid yang lebih murah.

8. Penetapan harga produk opsional (optional-product pricing). 

Wirausaha menetapkan harga produk dasar dengan satu harga tetapi menjual berbagai pilihan aksesoris lain dengan marjin laba yang lebih tinggi. Misalnya, perusahaan perakit mobil menawarkan satu tipe standar. Jika pelanggan menginginkan tambahan aksesoris seperti spoiler, maka dikenakan harga yang lebih tinggi.

9. Penetapan harga produk captive. 

Wirausaha menetapkan harga untuk produk dasar dan aksesorisnya secara berbeda, di mana produk dasar tidak dapat berfungsi tanpa adanya aksesoris. Misalnya, printer desk-jet (produk dasar) dengan ink-cartridge (aksesoris); alat cukur (produk dasar) dengan pisau cukur (aksesoris), dan sebagainya.

10. Penetapan harga produk sampingan (by product). 

Teknik penetapan harga di mana pendapatan dari penjualan produk sampingan memungkinkan perusahaan menjadi lebih kompetitif dalam menetapkan harga untuk produk utamanya. Misalnya, pabrik penggergajian kayu menggunakan kulit kayu sebagai sisa dari penggergajian yang dijual kepada tukang kebun untuk melapisi tanah.

Comments

Edukasi Terpopuler

Connect With Us

Copyright @ 2020 beginisob.com, All right reserved