Skip to main content

Dasar-dasar Manajemen Islami

Sebagaimana diuraikan pada sub bab sebelumnya, manajemen dalam Islam dikembangkan berdasarkan terma tadbir, ditinjau dari bentuk lafadz-nya, bersifat muthlaq yakni lafadz yang belum ada kaitan atau batasan dengan lafadz lain yang mengurangi keseluruhan jangkauannya. Kemudian terma Tadbir menjadi muqayyad dikarenakan berhadapan dengan lafadz lain. Muqayyad berarti suatu lafadz yang terbatas atau terikat oleh lafadz lain yang mengurangi keseluruhan jangkauannya. Maksudnya, luas jangkauannya telah dibatasi sedikit dari waktu masih mutlaq-nya. Dengan kata lain lafadz muqayyad pada dasarnya adalah lafadz mutlaq yang diberi kaitan oleh lafadz lain sehingga artinya lebih tegas dan terbatas daripada waktu masih mutlaq-nya. Walaupun demikian keterbatasan lafadz muqayyad seperti lafadz pada ayat-ayat di atas tidak menghilangkan jangkauannya kepada sifat-sifat lain, artinya sifat-sifat lain masih ada padanya. Muchtar dkk, 1995:54-55

Menurut Manna' Khalil al-Qattan, lafadz Mutlaq adalah lafadz yang menunjukkan suatu hakikat tanpa sesuatu qayid (pembatas). Jadi, ia hanya menunjuk kepada satu hal yang tidak tertentu dari hakikat tersebut. Lafadz Mutlaq pada umumnya, berbentuk lafadz nakirah dalam konteks kalimat positif. Sedangkan Muqayyad adalah lafadz yang menunjukkan suatu hakikat dengan qayid (batasan). Manna' khalil al-Qattan, 1998, 350-351

Dengan demikian Mutlaq dan Muqayyad-nya lafadz yang dimaksud oleh Muchtar dan Manna' Khalil al-Qattan tidak ada perbedaan yang mendasar. Dari pengertian-pengertian di atas, secara garis besar lafadz mutlaq dapat dimaknai sebagai lafadz yang masih bersifat umum dan lafadz muqayyad adalah lafadz yang bersifat khusus.

Muqayyad-nya lafadz Tadbir pada ayat-ayat di atas, dikarenakan berhadapan dengan lafadz lainnya, contoh ayat adalah sebagai berikut:

  1. Pada Q.S. Yunus (10): 3, 31; Q.S. Ar-ra'd (13): 2; Q.S.As-Sajdah (32): 5; Q.S.An-Najiyat (79): 5 berhadapan dengan lafadz al-amru
  2. Pada Q.S.An-Nisa' (4): 82, Q.S.Muhammad (47): 24; Q.S.As-Shad (38):29 berhadapan dengan lafadz Al-Qur'an
  3. Pada Q.S.Al-Mu'minun (23): 68 berhadapan dengan lafadz al-qaul

Berangkat dari ketiga klasifikasi tersebut serta dikaitkannya hakikat manajemen yang terkandung dalam Al-Qur'an yakni merenungkan atau memandang ke depan suatu urusan (persoalan), agar perkara itu terpuji dan baik akibatnya, maka hal ini, menderivasikan adanya prinsip-prinsip manajemen yang meliputi:

Pertama, keadilan. Kedua, amanah dan pertanggungjawaban. Ketiga, komunikatif. Prinsip pertama dan kedua berangkat dari klasifikasi pertama yakni lafadz Tadbir yang berhadapan dengan lafadz al-amr. Sedangkan prinsip ketiga berangkat dari klasifikasi kedua dan ketiga yakni lafadz Tadbir yang berhadapan dengan lafadz Al-Qur'an dan lafadz Tadbir yang berhadapan dengan al-qaul. Hal tersebut disandarkan pada argumen bahwa lafadz Al-Qur'an dan al-qaul merupakan simbol dari komunikasi, seperti yang diungkapkan oleh Al-Qur'an sendiri pada Q.S. As Shad (38): 29 dan Q.S. Al-Mu'minun (23): 68.

Berdasarkan ayat-ayat tersebut di atas, maka Jamil (2002) meringkasnya menjadi prinsip-prinsip manajemen islami, sebagai berikut:

  1. Keadilan
  2. Amanah dan Pertanggungjawaban 
  3. Komunikatif . Sobrun Jamil, "Manajemen dalam Perspektif Islam", Skripsi, Yogyakarta: STIS Yogyakarta, 2002.

Dengan penjelasan sebagai berikut: 

1. Keadilan

Meski benar bahwa keadilan dan ketidakadilan telah terlihat jelas semenjak manusia eksis di muka bumi, manusia masih kabur dalam menggambarkan tapal batasnya. Arti keadilan tidak pernah dipahami secara lengkap. Keadilan merupakan satu prinsip fundamental dalam ideologi Islam. Pengelolaan keadilan seharusnya tidak sepotong-potong, tanpa mengacu kepada status sosial, aset finansial, kelas dan keyakinan religius seseorang. Al-Qur'an telah memerintahkan penganutnya untuk mengambil keputusan dengan berpegang pada kesamaan derajat, keutuhan dan keterbukaan. Maka, keadilan adalah ideal untuk diterapkan dalam hubungan dengan sesama manusia.

Kata kunci yang digunakan Al-Qur'an dalam menjelaskan konsep keadilan adalah 'adl dan qist. 'Adl mengandung pengertian sawiyyat, dan juga mengandung makna pemerataan dan kesamaan. Penyamarataan dan kesamaan ini berlawanan dengan kata Zulm dan jaur (kejahatan dan penindasan). Qist mengandung makna distribusi, angsuran, jarak yang merata. Taqassata salah satu kata derivasinya juga bermakna distribusi yang merata bagi masyarakat, dan qistas, kata turunan lainnya, berarti keseimbangan berat. Sehingga kedua kata di dalam Al-Qur'an yang digunakan untuk menyatakan keadilan yakni 'adl dan qist mengandung makna distribusi yang merata, termasuk distribusi materi. Ashar Ali, 1999:60

Keadilan yang terkandung dalam Al-Qur'an, juga bermakna menempatkan sesuatu pada proporsinya, seperti yang diungkapkan beberapa ayat berikut:

"Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya" Q. S An Najm (53) : 39

"Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan pekerjaan mereka, sedang mereka tiada dirugikan " Q. S Al Ahqaf (46) :19

"Bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagai karunianya. Sesungguh-Nya Allah maha mengetahui segala sesuatu" Q. S An Nisa (4) :32

2. Amanah dan Pertanggungjawaban

Dalam hal amanah dan pertanggungjawaban, Islam menggariskan dalam firman-Nya, yang artinya: "Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang kamu kerjakan " Q. S An Nahl (16) :93

Amanat yang menjadi pembahasan pada klausa ini merupakan bentuk masdar dari kata kerja amina, ya'manu, amn(an), amanat(an), aman(an), imn(an), amanat(an) secara leksikal bermakna segala yang diperintah Allah kepada hamba Nya." Al Munawwir, 1997:41

Ibn Katsir mengemukakan bahwa ayat ini menyatakan sifat-sifat Utusan Tuhan,yaitu: menyampaikan seruan Tuhan, memberi nasihat dan kepercayaan. Ibn Katsir

Al Maraghi mengklasifikasikan amanat terbagi atas: a). Tanggung jawab manusia kepada sesamanya b). Tanggung jawab manusia kepada Tuhan c). Tanggung jawab manusia kepada dirinya sendiri.

Prinsip tersebut bermakna bahwa setiap pribadi yang mempunyai kedudukan fungsional dalam interaksi antarmanusia dituntut agar melaksanakan kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Apabila ada kelalaian terhadap kewajiban tersebut akan mengakibatkan kerugian bagi dirinya sendiri. Persoalan lebih lanjut berkenaan dengan kewajiban-kewajiban yang menjadi tanggung jawab dan sumber tanggung jawab tersebut. Persoalan ini terkait dengan amanat yang telah dikemukakan, yaitu amanat dari Tuhan berupa tugas-tugas berupa kewajiban yang dibebankan oleh agama, dan amanat dari sesama manusia, baik amanat yang bersifat individual maupun organisasional. Salim, 1994:201. Pada konteks inilah, si penerima amanat dituntut untuk profesional, sesuai dengan hadist Rasulullah SAW berikut:

"Jika amanat telah disia-siakan, tunggulah kehancuran", lalu sahabat bertanya: "Ya Rasulullah, bagaimana menyia-nyiakannya?" Rasulullah SAW menjawab: "jika urusan diserahkan orang yang bukan ahlinya" H. R. Muslim

Selanjutnya, amanat-amanat yang dibebankan tersebut, akan dimintai pertanggungjawabannya, seperti hadist Rasulullah SAW berikut:

"Setiap hamba itu adalah penggembala (pemelihara) atas harta tuannya,dan dia bertanggung jawab atas harta yang dikelolanya".

3. Komunikatif

Sesungguhnya dalam setiap gerak manusia tidak dapat menghindari untuk berkomunikasi. Ketika pejabat mengatakan 'No Comment' misalnya, sebetulnya ia telah menyampaikan komentar. Begitu akrabnya komunikasi dengan kehidupan manusia, sehingga manusia perlu berkomunikasi untuk menghindari komunikasi. Jalaluddin, 1991:76

Dalam manajemen, komunikasi menjadi faktor penting dalam melakukan transformasi kebijakan atau keputusan dalam rangka pelaksanaan manajerial itu sendiri menuju tercapainya tujuan yang diharapkan. Begitu pentingnya komunikasi dalam manajemen, sehingga menuntut komunikasi tersebut disampaikan dengan tepat. Ketepatan penyampaian komunikasi ini, selanjutnya disebut sebagai komunikatif. Berkaitan dengan komunikasi yang komunikatif ini, Al-Qur'an memberikan penjelasan dalam beberapa ayatnya dengan petunjuk lafadz qawlan yang berbentuk kata kerja perintah (amr).

Diantara ayat-ayat Al-Qur'an yang menjelaskan komunikasi yang komunikatif adalah sebagai berikut: 

a. Qawlan layyina pada QS. Thaaha (20): 44

"Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut "

Menurut Al-Maraghi ayat tersebut terkait pembicaraan dengan Fir'aun yakni pembicaraan yang lemah lembut agar lebih dapat menyentuh hati dan lebih dapat menariknya untuk menerima dakwah. Sebab dengan perkataan yang lemah lembut hati orang-orang yang durhaka akan menjadi halus dan kekuatan orang-orang yang sombong akan hancur.

b. Qawlan karima pada QS. Al-Israa' (17): 23 

"Dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia"

Perkataan yang mulia pada ayat tersebut hendaknya disampaikan kepada orang tua (birr alwalidain). Qaulan karima pada ayat tersebut menurut Al Maraghi adalah sikap yang baik tanpa adanya kekerasan.

c. Qawlan maisura pada QS. Al-Israa' (17): 28

"Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah pada mereka ucapan yang pantas" 

Perkataan atau ucapan yang pantas 'qawlan maisura' pada ayat tersebut berkonteks pada keluarga dekat, orang miskin serta para musaffir. Sedangkan kata qawlan maisura pada ayat tersebut, menurut Al Maraghi adalah perkataan lunak dan baik, kalaupun memberi janji, janjikanlah kepada mereka janji yang tidak mengecewakan hati.

d. Qawlan ma'rufa pada QS. Al-Ahzaab (33): 8 dan QS. An-Nisaa' (4): 5

"Maka berilah mereka dari harta itu (sekadarnya) dan ucapkanlahkepada mereka perkataan yang benar "

Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik"

Ucapan yang digunakan ayat tersebut 'qawlan ma'rufa" (kata-kata yang baik) menurut Al Maraghi bermakna perkataan yang enak dirasa oleh jiwa dan membuatnya menjadi penurut. Misalnya memberikan pemahaman kepada orang yang belum bisa tasarruf, bahwa harta itu adalah kepunyaannya, tidak ada seorangpun yang berkuasa atasnya.

e. Qawlan sadida pada QS. Al-Ahzaab (33): 70 dan QS. An-Nisan (4): 9

"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar" 

"Hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar"

Kata qawlan sadida yang pertama adalah perintah sesudah taqwa, qawlan sadida berarti ucapan yang jujur, tidak bohong. Yakni supaya kita tidak meninggalkan keturunan yang lemah, Al-Qur'an menyuruh kita selalu berkata benar dan anak-anak dilatih berkata jujur. Karena kejujuran melahirkan kekuatan. Kebohongan mendatangkan kelemahan. Biasa berkata benar mencerminkan keberanian dan bohong sering lahir, karena tidak percaya diri serta adanya rasa ketakutan. Jalaluddin, 1991:79

Kemudian kata qawlan sadida kedua 'perkataan yang adil dan benar adalah perintah Allah kepada manusia dalam urusan anak yatim.

f. Qawlan baligha QS. An-Nisa' (4): 63

"Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada mereka"

Baligha pada ayat tersebut berarti sampai pada sasaran atau mencapai tujuan. Bila dikaitkan dengan gawlan (ucapan atau komunikasi), maka gawlan baligha berarti fasih, jelas maknanya, terang, tepat mengungkapkan apa yang dikehendaki. Menurut Jalaluddin Rahmat qawlan baligha dapat terjadi apabila komunikator menyesuaikan pembicaraannya dengan sifat-sifat orang yang dihadapinya. Dalam istilah Al-Qur'an, ia berbicara "fi anfusihim" (tentang diri mereka). Sedangkan dalam istilah sunnah, "berkomunikasilah kamu sesuai dengan kadar akal mereka". Ibid

Uraian-uraian yang telah dijelaskan di atas, menunjukkan bahwa kodrati manusia sebagai makhluk yang tergantung dan makhluk utama yang memiliki kebebasan dalam menentukan jalan hidupnya serta eksistensinya sebagai hamba Allah dan khalifah yang membawa misi pemakmur bumi dan amar ma'ruf nahi munkar, erat kaitannya dengan pencapaian hakekat manajemen yang terkandung dalam Al-Qur'an yakni memandang atau merenungkan suatu urusan (persoalan) agar persoalan tersebut terpuji dan baik akibatnya.

Comments

Edukasi Terpopuler

Connect With Us

Copyright @ 2020 beginisob.com, All right reserved