Langsung ke konten utama

Cara Membuat Pakan Fermentasi untuk Unggas

Baca Juga

Limbah pertanian tidak dapat langsung diberikan pada unggas seperti ayam, ayam petelur, ayam JOPER, ayam bangkok, itik, dan puyuh karena kadar protein, daya cerna, dan asam amino yang rendah, serta serat kasar yang tinggi. Dengan penggunaan teknologi fermentasi, nilai gizi limbah pertanian dapat ditingkatkan sebagai sumber pakan alternatif untuk unggas. Teknologi fermentasi merupakan proses penyimpanan substrat dalam keadaan anaerob dengan menambahkan mineral, menanamkan mikroba di dalamnya, dilanjutkan dengan inkubasi pada suhu dan waktu tertentu dengan tujuan untuk meningkatkan nilai gizi terutama kadar protein dan menurunkan kadar serat (Pasaribu, 2007).

Penggunaan teknologi fermentasi pada umumnya dilakukan dengan menggunakan substrat padat dalam wadah yang disebut fermentasi Tahap-tahap pembuatan produk fermentasi dari substrat padat diuraikan sebagai berikut (Pasaribu et al., 1998).

1. Fermentasi Onggok dan Kulit Ari Kedelai

Onggok dan kleci merupakan limbah agroindustri yang potensial untuk dimanfaatkan sebagai pakan unggas.

Onggok merupakan hasil sampingan dari pembuatan tapioka ubi kayu. Pada proses pengolahan tepung tapioka, satu ton ubi kayu segar akan menghasilkan kurang lebih 250 kg tepung tapioka dan 114 kg onggok (Tarmudji, 2004). Onggok yang dihasilkan belum dapat dimanfaatkan secara maksimal mengingat kandungan proteinnya yang rendah yaitu 2.09%, dan kandungan serat kasar yang tinggi yaitu 16.13% serta kandungan zat-zat makanan lainnya lemak 0.37%, abu 1.25%, BETN (bahan ekstrak tanpa nitrogen) 80.16% (Nuraini dan kawan-kawan, 2007).

Penggunaan onggok sebagai bahan baku penyusun pakan ternak masih sangat terbatas, terutama untuk ternak unggas. Haroen (1993) menyatakan penggunaan onggok dalam ransum ayam broiler dapat dipakai sampai level 15% selama kebutuhan zat-zat makanan lain terpenuhi. Pendapat Efna (1992) bahwa onggok hanya dapat digunakan sampai level 10 % dalam ransum ayam broiler tanpa mengganggu performa. Hal ini disebabkan kandungan proteinnya yang rendah disertai kandungan serat kasarnya yang tinggi.

Kleci adalah kulit ari kedelai dari hasil pengupasan biji kedelai. Kullit ari kedelai akan selalu dihasilkan karena industri pembuatan tempe terus berlangsung untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia. Dari tempe dapat dipenuhi kebutuhan masyarakat akan protein nabati. 

Dalam usaha ternak itik, biaya pakan merupakan komponen terbesar dari keseluruhan biaya yang dikeluarkan seorang peternak Biaya pakan bahkan 50% lebih tinggi daripada usaha ternak ayam potong. Penyebabnya adalah rasio konversi pakan pada itik yang tidak sebaik pada ayam potong, Pada itik, untuk mencapai bobot badan 1,1 kg-1,2 kg diperlukan waktu 10 minggu dengan konversi pakan 4,19-6,02. Konversi pakan akan semakin baik apabila angkanya mendekati angka nol.

Bahan yang Dibutuhkan:

Kleci (kulit ari kedelai) : 1,5 kg (15%)

Onggok : 1,5 kg (15%)

Jagung : 4 kg (40%) 

Menit kedelai : 3 kg (30%) 

Jumlah : 10 kg (100%) 

Cara membuat:

  • Campurkan semua bahan tersebut. Aduk sampai merata.
  • Lakukan proses fermentasi (Ragi Tempe)

Proses Fermentasi dengan Aspergillus niger (ragi tempe) 

  • Semua bahan yang sudah bercampur tersebut dimasukkan dalam wadah plastik atau ember besar. 
  • Tambahkan air hangat 8 liter. Aduk sampai rata dan biarkan beberapa saat. 
  • Setelah agak dingin tambahkan ragi tempe (Aspergillus niger) 100 gram. Aduk kembali sampai seluruh ragi temper tercampur merata.
  • Ember ditutup rapat dan biarkan selama 3 hari. 
  • Ransum pakan sudah siap digunakan untuk pakan itik

Proses Fermentasi dengan Multi Mikroba

  • Siapkan ember plastik lalu tuangkan air bersih 8 liter.
  • Tambahkan 10 ml multi mikroba ke dalam ember berisi air. Aduk sampel rata. 
  • Tambahkan 10 kg bahan pakan yang sudah dicampurkan yang terdiri dari kulit ari kedelai, onggok, Jagung dan menir kedelai.
  • Kemudian masukkan dalam kantong plastik atau karung plastik lalu biarkan selama 3 hari. Bongkar bahan pakan fermentasi tersebut lalu berikan pada unggas.

Menyimpan pakan fermentasi

Pakan fermentasi dengan formula atau resep tersebut dapat dibuat dalam jumlah banyak untuk disimpan. Bahan pakan yang sudah difermentasi perlu dijemur terlebih dahulu agar tidak bau dan tidak ditumbuhi jamur. 

Resep pakan fermentasi ini direkomendasikan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Yogyakarta untuk pakan itik.

2. Fermentasi Dedak Amoniasi yang Menghasilkan Larva Lalat Tentara

Dedak merupakan hasil samping dari penggilingan padi. Dedak biasanya bercampur kulit gabah. Kandungan proteinnya sekitar 12%. Serat kasar sekitar 13%, dan lemak sekitar 13%. Oleh karena kandungan lemaknya tinggi. dedak mudah menjadi tengik dalam penyimpanan Kandungan mineral Kalsium (Ca) 0,05% dan Phosphor (P) sekitar 1,5%. 

Ketersediaan dedak padi selalu berfluktuasi. Di musim panen padi ketersediaannya melimpah. Tetapi di tanam ketika tidak ada panenan padi, dedak menjadi langka. Dengan proses fermentasi dedak dapat disimpan sebagai pakan unggas ketika ketersediaan dedak melimpah saat musim panen. 

Dedak yang dipilih sebagai bahan pakan unggas sebaiknya yang mengandung kulit ari beras dan menir atau pecahan beras, tetapi tidak tercampur dengan pecahan kulit gabah (sekam). Dedak yang tercampur dengan sekam akan meningkatkan serat kasar hingga 25%. 

Dedak padi dapat diuji kualitasnya dengan cara uji apung. Makin banyak dedak padi yang mengapung. makin jelek kualitas dedak padi tersebut. Selain itu uji organoleptik seperti tekstur, rasa, warna, bau dan uji sekam (flouroglusinol) dapat dipakai untuk mengetahui kualitas dedak padi yang baik. Bau tengik merupakan indikasi yang baik untuk dedak yang mengalami kerusakan. 

Bahan yang Dibutuhkan

  • Dedak halus : 10 kg (atau sesuai keinginan peternak)
  • Urea : 150 gram (maksimal 1,5% dari dedak halus)
  • Air : 5 liter (secukupnya)
  • Kotoran sapi/kerbau (basah): 0,75 kg (7,5% dari dedak halus)
  • Ember plastik
  • Timbangan
  • Sendok atau alat untuk mencampur

Cara Membuat

  • Urea dilarutkan dalam air 
  • Dedak halus dicampurkan dengan kotoran ternak secara merata
  • Campurkan urea yang sudah dilarutkan dalam air ke dalam campuran dedak dengan kotoran ternak. Aduk-aduk sampai merata.
  • Kepal adonannya. Ketika kepala adonan diperas, tidak ada air yang keluar dari sela-sela jari dan hasil kepalanya bila dilepas tetap utuh, dan pecah terhambur ketika adonan disentil, maka campurannya sudah cukup mengandung air 
  • Adonan tersebut dimasukkan dalam ember dan ditutup dengan kantong plastik yang sudah dilubangi. 
  • Ikat kantong plastik pada bagian mulut ember dengan tali atau karet.
  • Lakukan fermentasi selama 2 minggu.
  • Bila terbentuk panas, tutup plastik dibuka dan campuran diaduk aduk merata. Setelah adonan tersebut menjadi dingin lalu tutup kembali agar proses fermentasi bisa berlanjut kembali. 
  • Setiap terjadi panas karena proses fermentasi, adonan diaduk lagi
  • Kemudian proses fermentasi berlanjut dengan terbentuknya belatung (larva lalat tentara). 
  • Proses fermentasi dianggap selesai, bila belatung telah menjalar keluar dari ember
  • Fermentasi yang dilakukan merupakan semi aerob seperti pembuatan tempe kedelai Hasil Fermentasi dapat langsung diberikan pada ternak ayam ras atau ayam kampung.

Menurut Atik Sihombing (bptu.sembawa.net) fermentasi dedak amoniasi dengan kotoran sapi atau kotoran ternak lainnya mampu meningkatkan kualitas bahan pakan karena menghasilkan belatung sebagai protein hewan yang memiliki komposisi asam amino esensial lebih baik dari kandungan asam amino dedak padi sendiri. Peningkatan protein selain berasal dari belatung juga berasal dari NPN (Non Protein Nitrogen) urea yang digunakan dalam proses amoniasi.

Ayam petelur yang diberikan pakan dedak amoniasi mampu meningkatkan besar telur jumlah telur per periode, pertumbuhan anak ayam lebih cepat dan tahan terhadap penyakit. 

3. Dedak Fermentasi

Proses pengolahan gabah menjadi beras akan menghasilkan dedak padi kira-kira sebanyak 10% pecahan pecahan beras atau menir sebanyak 17%, tepung beras 3%, sekam 20% dan berasnya sendiri 50% (endosperma). Persentase tersebut sangat bervariasi tergantung pada varietas dan umur padi, derajat penggilingan serta penyosohannya (Grist, 1972). Endosperma merupakan bagian utama beras yang mengandung tepung dan protein. Selain itu endosperm juga mengandung selulosa, mineral, dan vitamin dalam jumlah kecil.

Dengan demikian dedak padi merupakan hasil ikutan penggilingan padi yang berasal dari lapisanluar beras pecah kulit dalam proses penyosohan beras. Atau dedak merupakan limbah dalam proses pengolahan gabah menjadi beras. Dedak mengandung lemak 6-10%. Inilah yang menyebabkan dedak padi mudah mengalami ketengikan oksidatif.

Dedak padi yang berkualitas baik mempunyai ciri fisik seperti baunya khas, tidak tengik, teksturnya halus, lebih padat dan mudah digenggam karena mengandung kadar sekam yang rendah, dedak yang seperti ini mempunyai nilai nutrisi yang tinggi (Rasyaf, 2002). Anggorodi (1994) menyatakan bahwa dedak padi yang berkualitas tinggi mempunyai kandungan sekam lebih rendah.

Bahan dan Alat

  • Dedak padi : 5 kg (dapat dilipat gandakan)EAi
  • EM4 : 150 ml (3% dari berat dedak)
  • Molasses : 150 ml (3% dari berat dedak)
  • Air
  • Drum plastik atau kantong plastik

Cara Membuat

  • Campurkan dedak padi dengan dengan air 2.5 liter. Aduk sampai merata sehingga menjadi seperti adonan.
  • Lalu campurkan EM4 dan molases (tetes tebu) ke dalam adonan dedak padi tersebut lalu diaduk sampai merata. 
  • Masukkan adonan dedak padi tersebut ke dalam kantong plastik lalu mulut kantong plastik diikat rapat agar tidak udara masuk dari luar. 
  • Lakukan fermentasi selama 2-3 hari dalam suhu ruang dan tidak terkena sinar matahari langsung. 

Dedak Padi dapat Pula Difermentasi dengan Ragi Tape

Bahan dan alat

  • Siapkan dedak padi 2 kg
  • Ragi tape 2 butir
  • Air secukupnya
  • Drum atau kantong plastik
  • Kompor

Cara membuat:

  • Dedak padi dibasahi dengan perbandingan 3:1. Diaduk aduk sehingga terbentuk seperti adonan. Bila dikepal tidak meneteskan air dan ketika dilepas tidak pecah berarti kadar air adonan sudah cukup
  • Kukus adonan tersebut sekitar 15-30 menit 
  • Adonan lalu didinginkan
  • Haluskan ragi tape lalu campurkan dengan adonan dedak yang sudah dingin, diaduk-aduk sampai merata
  • Masukkan adonan ke dalam kantong plastik kemudian tutup rapat. Mulut plastik boleh diikat.
  • Setelah 1-2 hari sudah dapat diberikan pada ternak unggas 
  • Sebelum diberikan pada ayam sebaiknya diangin-anginkan dulu
  • Bila fermentasi dedak padi dilakukan dalam jumlah banyak dan hendak disimpan sebaiknya dedak fermentasi dikeringkan dengan cara dijemur kemudian simpan dalam karung plastik yang bersih. Dedak fermentasi dapat disimpan dalam waktu 3 bulan.

Bekatul Fermentasi

Pada bekatul, kandungan protein, Ca, dan P hampir mirip dengan dedak, tetapi kandungan serat kasarnya jauh lebih rendah yaitu kira-kira 4%. Oleh karena itu bekatul dapat digunakan dalam ransum ayam dalam jumlah lebih banyak dari pada dedak. 

Cara membuat

  • Siapkan bekatul dengan takaran yang sesuai dengan persediaan yang ada
  • Bekatul dicampur dengan air sebanyak 20%. Misalnya bekatul 10 kg maka dicampur dengan air sebanyak 2 liter. Aduk sampai rata dengan ketika diperas tidak meneteskan air lagi dan ketika dilepas tidak pecah. Artinya adonan sudah tercampur merata dengan air
  • Kukus bekatul tersebut selama 15-30 menit
  • Dingin bekatul tersebut lalu campurkan dengan ragi tempe Rhizopus oligosporus. Rhizopus merupakan kapang yang menghasilkan enzim protease dan fitase. Enzim tersebut yang bekatul fermentasi menjadi lebih mudah diserap ternak unggas. 
  • Masukkan bekatul yang sudah dicampurkan dengan ragi tempe menjadikan protein terlarut meningkat sehingga nilai gizi lalu masukkan dalam kantong plastik atau ember plastik. Tutup rapat selama 5-7 hari. 
  • Fermentasi dianggap berhasil bila tercium aroma seperti tempe, tidak tercium bau tengik, dan berubah warna menjadi coklat muda 
  • Bekatul fermentasi siap diberikan pada ternak unggas.

4. Fermentasi Ampas Tahu

Industri tahu dalam negeri mempunyai kapasitas produksi 2,56 juta ton tahu per tahu (Sadzali, 2010). Ampas tahu yang terbentuk besarannya berkisar antara 25-35% dari produk tahu yang dihasilkan (Kaswinarni, 2007). Ampas tahu merupakan bahan sisa dalam bentuk padatan dari bubur kedelai yang diperas pada saat pembuatan tahu. Ampas ini memiliki sifat yang cepat basi dan berbau tidak sedap kalau tidak segera ditangani dengan cepat. Ampas tahu akan mulai menimbulkan bau yang tidak sedap, 12 jam setelah dihasilkan (Suprapti, 2005).

Ampas tahu dapat dijadikan sebagai bahan pakan sumber protein karena mengandung protein kasar cukup tinggi berkisar antara 23. 29% (Mathius & Sinurat, 2001) dan kandungan zat nutrien lain adalah lemak 4,93% (Nuraini, 2009) dan serat kasar 22,65% (Duldjaman, 2004). Pada umumnya limbah yang melimpah ini dapat dimanfaatkan langsung sebagai pakan ternak tetapi asam amino yang rendah dan serat kasar yang tinggi biasanya menjadi faktor pembatas dalam penggunaannya sebagai pakan. Untuk meningkatkan kualitas ampas tahu, dapat dilakukan proses fermentasi.

Bahan Dan Alat

  • Ampas tahu 25 kg
  • Ragi tape 5-7 butir atau rapi tempe 2-3 lembar
  • Mineral 500 gram sebagai feed supplement yang mengandung fosfor, besi, mangan, dan vitamin B12

Cara membuat

  • Ampas tahu diperas sampai tidak mengeluarkan air. Cirinya ketika dikepal tidak mengeluarkan air dari sela-sela jari
  • Ampas tahu dikukus selama 30 menit 
  • Ampas tahu yang sudah dikukus lalu didinginkan. Dapat disebarkan di atas wadah plastik di lantai sehingga cepat dingin.
  • Taburkan ragi tape atau ragi tempe juga mineral lalu diaduk sampai rata
  • Masukkan ampas tahu dalam drum, ember atau kantong plastik Tutup rapat Mulut kantong plastik dapat diikat. 
  • Peram selama 2-3 hari. Jika sudah tercium aroma bau harum,proses fermentasi sudah selesai. 
  • Ampas tahu fermentasi dapat diberikan langsung pada ternak unggas. 
  • Ampas tahu fermentasi dapat disimpan selama 2 bulan. Sebelum disimpan sebaiknya dikeringkan terlebih dahulu dengan menjemurnya di bawah sinar matahari.

Nilai Gizi

Fermentasi ampas tahu menghasilkan bahan pakan sumber protein kasar yang cukup tinggi berdasarkan bahan kering, yaitu 28,36% dan kandungan nutrien lainnya adalah lemak 5,52% serat kasar 17,06 dan BETN 45,44% (Nuraini et al, 2007). BETN (bahan ekstrak tanpa nitrogen) mengandung karbohidrat, gula dan pati.

Sumber : Membuat pakan fermentasi unggas & jamu unggas oleh Ir. Norbertus Kaleka. Pustaka baru. 

Komentar