Langsung ke konten utama

Cara Mudah Mengolah Sampah Rumah Tangga Menjadi Kompos

Sampah-sampah rumah tangga di kota besar begitu melimpah. Sangat ideal bila diolah menjadi kompos. Hasilnya, selain digunakan sendiri untuk berkebun kompos itu juga diminati masyarakat. Beginisob, Berikut ini cara mengolah sampah rumah tangga menjadi kompos:

  • Siapkan wadah pengomposan di bawah naungan atau atap agar terhindar dari hujan. Wadah dapat berupa tumpukan batu bata ukuran 80 cm x 80 cm setinggi 1 m atau drum plastik. Lubangi dasar drum sebanyak 5 buah. Letakkan batu bata sebagai dasar drum supaya sirkulasi udara lancar. 
  • Pisahkan sampah organik (daun, rumput, irisan sayuran) dan sampah anorganik (plastik atau pecahan kaca) . Cacah sampah organik menjadi potongan 3 cm x 3 cm. Makin kecil potongan makin cepat proses pengomposan. Namun, jika terlalu kecil, timbunan cenderung memadat sehingga sirkulasi udara tidak lancar. Sisa sayur bersantan, minyak dan lemak sebaiknya tidak digunakan karena akan mengganggu proses pengomposan.
  • Campurkan sampah daun kering, sampah daun hijau, dan kompos lama dengan perbandingan 1:2:1. Siram sampah yang telah terpotong potong dengan air sampai jenuh. Jika sampah hijau kurang, tambahkan kotoran ternak ayam kambing, atau sapi). Penambahan kotoran ternak sekaligus mempercepat penguraian. Untuk 100 kg bahan mentah diperlukan 0,7-1 kg pupuk kandang. Idealnya tinggi tumpukan sampah 1 meter. Panas akan cepat hilang jika tumpukan sampah terlalu rendah. Terlalu tinggi pun menimbulkan suhu tinggi, tetapi udara dalam timbunan kurang. Mikroba aerob membutuhkan oksigen untuk berkembang biak
  • Tumpukkan batu bata selang-seling pada sisi depan wadah kompos kemudian masukkan dalam wadah pengomposan. 
  • Tutup wadah dengan terpal karung goni, atau sabut kelapa yang dimasukkan dalam kantong jala. Sebetulnya starter seperti EM4 dan Biotama 3 dapat digunakan untuk mempercepat pengomposan. 
  • Saat pengomposan bahan organik dirombak oleh mikroorganisme sehingga menghasilkan karbon sebagai pembangun sel-sel tumbuh. Sumber energi diperoleh dari unsur nitrogen bahan organik segar. Dua pekan pertama mikroba mulai bekerja Indikasinya suhu meningkat hingga 65° C. Perlahan suhu turun menjadi 40 C pada pekan ke-3 dan ke 4 Pekan ke-6 suhu kembali normal, sekitar 30-32°C. Kelembapan optimal 50-60%. Perubahan suhu menandakan proses pengomposan berjalan baik. Untuk menjaga ketersediaan udara segar dan kelembapan lakukan pembalikan sampah setiap 7 hari sekali sehingga bagian bawah berada di atas.
  • Pengomposan berbau amonia bila terlalu banyak unsur nitrogen atau daun hijau. Segera tambahkan daun-daun berwarna coklat kering) dan aduk. Jika dalam proses tidak terjadi perubahan suhu, nitrogen dan oksigen kurang atau kurang lembab, segera tambahkan bahan daun-daunan hijau kaya nitrogen seperti sayuran, kulit buah yang lunak, potongan rumput, sampah dapur, bubuk teh, kopi, kulit telur, dan pupuk kandang
  • Untuk mengetahui kelembapan, gunakan kayu atau bambu sepanjang tumpukan sampah. Tancapkan bilah bambu ke bagian tengah tumpukan sampah. Jika bambu basah, artinya bagian dalam masih lembap. Sebaliknya, bila campuran kompos kering, tambahkan sedikit air. Terlalu banyak air mengakibatkan matinya bakteri aerob sehingga terjadi pembusukan sampah. 
  • Kompos matang setelah 6 pekan. Tandanya bahan-bahan kompos berubah menjadi butiran seperti tanah, tidak berbau busuk , warna coklat kehitaman, dan suhu sama dengan suhu tanah. Jika suhu masih tinggi-digenggam terasa hangat-kemungkinan ada sisa bahan belum matang. Lakukan pembalikan kembali. 
  • Ayak kompos untuk memisahkan bahan tidak terurai seperti ranting atau biji. Bahan-bahan itu dapat digunakan kembali untuk pembuatan kompos periode berikutnya. 
  • Kompos terayak dikemas dalam kantong plastik kedap air agar kelembaban terjaga. Simpan kompos di tempat teduh. 
Begitulah cara praktis membuat sampah rumah tangga menjadi kompos yang berguna dan bisa bermanfaat untuk perkebunan organik. 

Komentar

Connect With Us

Copyright @ 2020 beginisob.com, All right reserved