Skip to main content

Budidaya Pembesaran Ikan Patin di Kolam Terpal

Seperti halnya lele, ikan patin (Pangasius pangasius) termasuk jenis ikan yang dapat mengambil oksigen langsung dari udara. Kondisi ideal lingkungan perairan yang dibutuhkan patin adalah bersuhu 26-32° C, pH 6,7-8,6, CO2 9-20 ppm, dan alkalinitas 80-250 ppm. Patin dapat hidup di air payau hingga 15 ppm. Warna tubuhnya mengilap dengan bagian punggung berwarna biru keabu-abuan. Kepalanya kecil dengan mulut terletak di ujung kepala agak ke bawah. Pada mulut bagian bawah terdapat sepasang sungut peraba yang agak pendek. 

Pada budidaya ikan patin, dapat dihasilkan ikan patin dengan panjang tubuh mencapai 35-40 cm dan dalam waktu 4-5 bulan bisa mencapai berat 400-500 g/ekor. Ada dua jenis ikan patin yang biasa dibudidayakan, yaitu patin lokal dan patin siam. Patin lokal berasal dari Sumatera dan Kalimantan, sedangkan patin siam berasal dari Thailand. Rasa daging ikan patin dikenal lezat dan gurih sehingga tidak heran bila ikan patin cukup digemari masyarakat dan termasuk dalam kategori ikan konsumsi bernilai ekonomis tinggi. Pembudidaya cukup memilih jenis mana yang cocok dan ada di daerahnya.

PENEBARAN BENIH

Patin memijah setahun hanya satu kali pada awal musim hujan sehingga di alam benih patin dapat dijumpai di perairan pada akhir musim hujan. Untuk membantu pemijahan di luar musim tersebut dapat dilakukan pemijahan dengan hipofisasi. Hingga saat ini pemenuhan kebutuhan benih patin masih belum bisa mengimbangi laju permintaan karena pemijahan patin di panti benih masih menggunakan bantuan hipofisa dan kerap harus mempertahankan suhu optimal pemijahan atau pemeliharaan larva, yakni sekitar 29–32° C. Hal ini secara tidak langsung turut menghambat perkembangan dari produksi benih secara keseluruhan.

Kepadatan tebar kebutuhan benih dalam satu luasan kolam berdasarkan standarisasi nasional. Penebaran patin terutama di wadah yang terkontrol atau semi terkontrol seperti di kolam terpal dapat dilakukan padat penebaran lebih padat daripada standarisasi nasional, terutama ketika fase larva hingga pendederan l. Padat tebar tersebut dapat dilakukan hingga 40 ekor/m2.

Sebelum benih ditebarkan ke dalam kolam terpal, sebaiknya diberi disinfektan terlebih dahulu yang bertujuan untuk menjaga kesehatan dan menghindari serangan penyakit. Disinfektan yang dapat digunakan bisa berupa antibiotik atau formalin dengan takaran 10-25 ppm.

Untuk mengurangi stres pada waktu penebaran, ada baiknya jika penebaran dilakukan pada pagi atau sore hari. Penebaran dilakukan secara perlahan karena guncangan selama dalam perjalanan biasanya membuat benih harus menyesuaikan terlebih dahulu dengan media barunya.

PEMBERIAN PAKAN

Patin termasuk jenis ikan omnivora, yaitu pemakan segala. Makanan patin antara lain hewan renik air seperti Daphnia sp., Moina sp., Artemia sp., Tubifex sp., Ikan kecil, anakan ikan, dan bekicot. Namun, untuk menjaga kesehatan dan mempercepat pertumbuhan ikan patin, berikut hal-hal yang harus diperhatikan. 

  1. Benin berumur 15 hari sebaiknya diberi pakan berupa Artemia sp. agar pertumbuhannya lebih cepat dan gerakannya menjadi gesit. 
  2. Benih berumur 30 hari dapat diberikan pakan berupa Tubifex sp. yang dikombinasikan dengan pakan pelet serbuk.
  3. Patin dewasa dapat diberi pakan berupa pelet tenggelam.

PEMELIHARAAN

Pada pemeliharaan patin terutama ketika masih benih, sebaiknya perlu dilakukan pengontrolan air, di antaranya sebagai berikut.

  1. Membersihkan dasar kolam dari kotoran atau sisa kotoran, misalnya dengan penyiponan. 
  2. Mengganti air kolam sebanyak 20% setiap dua atau tiga hari sekali. 
  3. Pada tingkat padat penebaran tinggi perlu dilakukan pemasangan aerasi agar suplai oksigen tetap terpenuhi, terutama ketika ikan masih berukuran kecil. 

Proses produksi ikan patin di kolam terpal

Comments

Edukasi Terpopuler

Connect With Us

Copyright @ 2023 beginisob.com, All right reserved