Skip to main content

Mengidentifikasikan kegiatan yang termasuk dalam manajemen kualitas total dan menerangkan enam alat yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk mencapainya

Mengidentifikasikan kegiatan yang termasuk dalam manajemen kualitas total dan menerangkan enam alat yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk mencapainya.

Manajemen kualitas total (TQM) (kadang kala disebut jaminan mutu) mencakup semua kegiatan yang perlu untuk membawa barang dan jasa bermutu tinggi ke tempat pasar. Ia harus mempertimbangkan semua bagian bisnis, termasuk pelanggan, pemasok, dan karyawan. Pendekatan strategis terhadap TQM mulai dengan fokus pelanggan. Termasuk di sini metode untuk menetapkan apa yang diinginkan pelanggan dan kemudian mengarahkan semua sumber daya perusahaan ke arah pemuasan keinginan dan kebutuhan pelanggan tersebut. Partisipasi total bersifat wajib, dan TQM itu lebih dari sekedar penggal waktu. Ia menuntut perbaikan produk, jasa terus menerus, dan peningkatan dalam semua proses in ternal perusahaan, seperti akuntansi, pengiriman, penagihan, dan arus informasi.

Akhirnya, TQM mencakup empat kegiatan manajerial dasar: 

  • (1) Perencanaan kualitas: Perencanaan mutu dimulai sebelum produk dirancang atau dirancang ulang. Dalam tahap pra-rancangan, manajer harus menetapkan tujuan, baik untuk kinerja kualitas (yang merujuk pada keistimewaan kinerja sebuah produk) maupun keandalan kualitas (konsistensi mutu produk dari unit ke unit). 
  • (2) Pengorganisasian kualitas: Karena memproduksi produk bermutu-tinggi menuntut usaha dari semua bagian organisasi, maka memiliki satu departemen "kendali mutu" yang terpisah sudah tidak memadai. Walaupun setiap orang dalam perusahaan menyumbang kepada mutu produk, tanggung jawab untuk aspek tertentu dari TQM sering dikenakan pada departemen dan pekerjaan khusus.
  • (3) Pengarahan kualitas: Manajer harus memotivasi karyawan untuk mencapai tujuan mutu. Mereka harus membantu karyawan melihat cara mereka memengaruhi mutu dan cara mutu memengaruhi baik pekerjaan mereka maupun perusahaan. Para pemimpin harus juga menemukan cara untuk mendorong orientasi mutu dengan melatih karyawan, mendorong keterlibatan, dan mengikat kompensasi pada mutu kerja. Mereka menginginkan karyawan menerima quality ownership: gagasan bahwa mutu menjadi milik setiap orang yang menciptakannya sambil mengerjakan sebuah pekerjaan. 
  • (4) Pengendalian untuk kualitas: Pertama, para manajer harus menetapkan standar mutu dan ukuran khusus. Kemudian, dengan memantau produk dan jasanya, mereka dapat mendeteksi kesalahan dan melakukan perbaikan.

Banyak perusahaan mengandalkan alat yang sudah terbukti untuk mengelola mutu. Sering, gagasan untuk memperbaiki produk maupun proses produksi berasal dari analisis produk kompetitif: proses menganalisis produk pesaing untuk mengidentifikasi perbaikan yang diinginkan dalam produk-produk milik perusahaan. 

Selain itu, ada enam alat yang lazim digunakan untuk manajemen mutu total: 

  • (1) analisis nilai-tambah adalah evaluasi atas semua aktivitas kerja, arus material, dan administrasi untuk menen-tukan nilai yang mereka tambahkan untuk pelang-gan. 
  • (2) Walaupun setiap bisnis mengalami variasi dalam produk dari unit ke unit, mereka dapat mengontrol mutu produk lebih baik dengan memahami sumber dari variasi. Kontrol proses statistik (SPC) merujuk pada metode yang digunakan karyawan untuk mengumpulkan data dan meng analisis variasi dalam kegiatan produksi untuk menentukan kapan penyesuaian dibutuhkan. Ada dua metiode SPC yang umum: (i) Variasi proses muncul dari masukan yang digunakan dalam proses produksi. Walaupun sejumlah variasi proses tidak dapat dielakkan, terlalu banyak variasi dapat menghasilkan mutu yang jelek dan biaya operasi yang besar. Informasi tentang variasi dalam proses dapat diperoleh dari studi kelayakan proses. Hasilnya dapat dibagankan dan dibandingkan dengan limit mutu yang dapat diterima. (ii) Untuk mendeteksi kembali pulihnya kondisi normal dari proses produksi, karyawan dapat memeriksa produksi secara berkala dan membagankan hasil pada bagan kontrol.
  • (3) Perbaikan apa pun selalu berarti ada biaya tambahan. Studi kualitas/biaya bermanfaat karena mereka tidak hanya mengidentifikasi biaya terkini perusahaan melainkan juga menyingkapkan bidang yang memiliki potensi penghematan-biaya paling besar. Biaya mutu diasosiasikan dengan pencarian, perbaikan, atau penemuan barang dan jasa yang rusak. Itu semua bisa disebabkan karena kegagalan internal (yang terjadi selama produksi dan sebelum produk-produk yang rusak meninggalkan pabrik) atau karena kegagalan eksternal (yang ditemukan setelah produk yang rusak meninggalkan pabrik). Biaya memperbaiki kegagalan juga ditabulasikan dalam studi kualitas/biaya.
  • (4) Banyak bisnis AS telah mengadopsi tim perbaikan mutu (QI: quality improvement): kelompok karyawan dari berbagai bidang kerja yang bertemu secara teratur untuk menetapkan, menganalisis, dan menyelesaikan masalah produksi umum. Tujuan mereka adalah memperbaiki baik metode kerja sendiri maupun produk yang mereka buat.
  • (5) Dengan benchmarking, sebuah perusahaan memperbaiki produk atau prosedur bisnisnya sendiri dengan cara membandingkannya dengan kinerjanya sendiri di masa lalu atau dengan praktik terbaik dari orang lain. Dengan internal benchmarking, perusahaan menelusuri kinerjanya sendiri sepanjang waktu untuk mengevaluasi kemajuannya dan menetapkan tujuan untuk perbaikan lebih lanjut. External benchmarking mulai dengan satu tinjauan tentang pesaing (atau bahkan perusahaan di lini bisnis lain) untuk menentukan barang atau jasa mana yang berkinerja paling baik; kegiatan dan produk ini disebut praktik terbaik. 
  • (6) Menjadi lebih dekat dengan pelanggan: Perusahaan yang bergolak sering kehilangan pandangan tentang pelanggan sebagai kekuatan yang mendorong untuk semua kegiatan bisnis; kebanyakan bisnis yang paling berhasil tetap dekat dengan pelanggan dan mengetahui apa yang mereka inginkan dalam produk-produk yang mereka konsumsi.

Comments

Edukasi Terpopuler

Connect With Us

Copyright @ 2020 beginisob.com, All right reserved