Skip to main content

Prinsip yang fundamental dari sistem ekonomi Islam

Bank Islam adalah institusi keuangan yang dibangun untuk memperkenalkan ekonomi Islam. Ekonomi Islami adalah pasar ekonomi yang dipimpin berdasarkan nilai moral. Islam secara esensi berbeda dari Kapitalisme, Sosialisme dan komunisme. Islam memberikan aturan yang terinci untuk jalannya ekonomi secara seimbang dan adil. Mengacu ke Alquran, segala sesuatu di dunia adalah milik Allah Yang Maha Besar. Manusia hanyalah yang dipercayakan dan memberi pertanggungan jawab kepada Dia, berdasarkan hukum yang tertera di dalam Islam. Seperti, kegiatan ekonomi didasarkan prinsip kerjasama dan pertanggungjawaban yang di atur secara etika, dan tujuannya adalah untuk membangun masyarakat yang dimana setiap orang berperilaku bertanggung jawab dan jujur. 

Prinsip yang fundamental dari sistem ekonomi Islam sebagai berikut:

1. Keadilan dalam Sosial-Ekonomi dan Kesamaan Distribusi

Hal esensi dari ekonomi Islam adalah membangun keadilan sosial-ekonomi. Keadilan sosial-ekonomi disarikan menjadi dua prinsip. Pertama adalah prinsip saling. bertanggung jawab dan kedua adalah prinsip keadilan sosial. Islam mendorong kegiatan bisnis dijalankan dengan cara yang jujur dimana setiap pihak berbagian keuntungan. Intinya adalah mengurangi eksploitasi.

2. Objek Usaha yang Dilarang

Islam melarang usaha yang tidak halal seperti babi, produksi, penjualan dan pendistribusian alkohol, dan lain-lain. Aktivitas-aktivitas ini adalah haram (tidak diizinkan). Setiap umat Muslim harus meyakinkan bahwa kegiatan ekonomi yang dijalankan oleh mereka seharusnya tidak terlibat dalam aktivitas haram. Haram yang didefinisikan sebagai tidak diizinkan, tidak disetujui, melanggar hukum, illegal.

3. Trusteeship

Islam menekankan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia adalah milik Allah yang Maha Besar dan Dia adalah pemilik dari segala sesuatu. Allah menjadikan manusia dapat dipercaya. Manusia bertanggungjawab kepada Allah untuk penggunaan semua sumberdaya ini. Prinsip ini yang membedakan pendekatan Islam terhadap ekonomi dari pendekatan materialistis seperti kapitalisme dan sosialisme, dan mendorong aspek moral dan rohani masuk dalam dunia bisnis. Kepemilikan yang mutlak oleh manusia tidak dikenal dalam konsep Islam. Namun ada tanggung jawab manusia atas kepemilikan yang dipercayakan Tuhan. Sebagai contoh, adanya larangan untuk memperoleh keuntungan dari kekayaan dari penipuan, pencurian atau cara-cara lain yang salah. Kekayaan hanya bisa diperoleh melalui kombinasi dari usaha dengan sumber daya yang sudah ada.

4. Melarang Penimbunan

Islam melarang penimbunan makanan, uang dan kebutuhan lain karena mengakui bahwa kekayaan akan musnah. Prinsip ini mengajarkan untuk mencari keuntungan ekonomi pada nilai moral dan spiritual, baik tingkat individu dan sosial. Islam mendorong investasi dalam perdagangan yang menambah penghasilan. Hal ini didasarkan prinsip bagi keuntungan dan kerugian, yang akan membuat komunitas menjadi produktif dan membawa kemakmuran ekonomi. Pelajaran penting adalah Islam melarang penimbunan kekayaan dan mendorong investasi yang memberi keuntungan kepada komunitas.

5. Spirit Kerja Sama

Islam mewajibkan setiap orang harus memberikan sebagian kekayaannya kepada yang membutuhkan. Kontribusi ini disebut zakat. Zakat adalah satu dari lima pilar dalam Islam. Pilar yang lain adalah iman, doa, puasa dan haji. Zakat biasanya 2.5 % dari kekayaan pribadi. Zakat berarti memperkecil jurang antara yang kaya dan yang miskin, dan memastikan bahwa kebutuhan setiap orang tercukupi. Masyarakat bisa berkembang jika setiap anggotanya tidak menggunakan semua kekayaan mereka untuk kepuasan mereka sendiri tetapi meyisihkan bagian untuk orang tuanya, keluarganya,tetangganya, orang miskin. Prinsip dari zakat adalah diambil dari orang yang berkepunyaan dan diberikan kepada mereka yang tidak punya. Pemerataan kekayaan ini mengurangi ketidak seimbangan sosial. 

6. Dua Risiko

Islam memiliki dua konsep dari risiko. Di satu sisi, adanya kewajiban menanggung risiko di dalam usaha yang produktif sama seperti pembagian keuntungan. Di sisi lain, risiko harus selalu diperlakukan secara hati-hati. Risiko dan tanggung jawab yang tidak dapat dikontrol sebaiknya dihindari karena itu akan mengarah ke spekulasi.

7. Tidak Ada Keuntungan Tanpa Usaha atau Kewajiban

Islam menganggap uang sebagai alat pertukaran dan tidak diperdagangkan. Islam tidak menentang keuntungan financial yang diperoleh, sejauh: 

  • a) Usaha tersebut adalah terbaik atau bagian kewajiban diterima sebagai hasil dari usaha. 
  • b) Usaha tersebut produktif, yang memberikan nilai tambah. 
  • c) Keuntungan yang dihasilkan sejalan dengan hukum Syariah,

Menurut Islam, uang yang tidak produktif sejauh uang itu tidak dikombinasi dengan usaha. Hal ini diikuti dengan simpanan yang akan menghasilkan penambahan nilai hanya ketika uang di investasikan dan keuntungan financial dibuat dari investasi bisa dibagi dengan investor. Hokum yang mengatur tentang pembagian kepada investor sebagai hasil dari investasi disebut "Pembagian Laba & Rugi".

Comments

Edukasi Terpopuler

Connect With Us

Copyright @ 2020 beginisob.com, All right reserved