Observasi Dapat Dilakukan Secara Tidak Langsung dengan Cara Ini: Pengertian, Metode, Contoh, dan Bedanya dengan Observasi Langsung
Diperbarui: 14 Desember 2025
Ringkasan cepat:
- Observasi tidak langsung dilakukan dengan cara mengumpulkan data lewat perantara (dokumen, arsip, rekaman video/foto, laporan, data statistik, hasil survei, atau wawancara), bukan melihat objeknya secara langsung di lokasi.
- Cara paling aman: tentukan tujuan → pilih sumber data yang kredibel → buat indikator/lembar cek → kumpulkan & catat bukti → verifikasi silang (triangulasi) → simpulkan.
- Observasi tidak langsung cocok untuk objek yang sulit dijangkau/berisiko/terikat izin, tetapi risikonya lebih besar: data bisa bias jika sumbernya tidak valid.
Daftar isi
- Kapan observasi tidak langsung biasanya dipakai?
- Apa itu observasi tidak langsung?
- Syarat agar observasi tidak langsung valid
- Langkah-langkah observasi dapat dilakukan secara tidak langsung
- Contoh observasi tidak langsung (tugas sekolah & sehari-hari)
- Jenis sumber data/perantara yang sering dipakai (tabel)
- Perbedaan observasi tidak langsung vs langsung
- Tips membuat hasil observasi tidak langsung kuat (anti ngarang)
- Risiko & kesalahan umum
- FAQ
- Baca juga di Beginisob.com
Kapan observasi tidak langsung biasanya dipakai?
Observasi tidak langsung cocok dipakai ketika:
- Objek sulit didatangi (misalnya lokasi jauh, terbatas izin, atau waktunya tidak memungkinkan).
- Objek berisiko jika diamati langsung (misalnya situasi bencana, konflik, atau area berbahaya).
- Data yang dibutuhkan lebih tepat dari rekam jejak (arsip, laporan, data statistik) daripada pengamatan sesaat.
- Tugas sekolah meminta mengamati fenomena, tetapi kamu diminta memakai sumber bacaan/rekaman sebagai bahan.
Apa itu observasi tidak langsung?
Observasi tidak langsung adalah cara mengumpulkan informasi tentang suatu objek/peristiwa tanpa melihat objeknya secara langsung di lokasi. Data diperoleh melalui perantara seperti dokumen, foto, video, laporan, wawancara, survei, atau data sekunder dari sumber terpercaya.
Intinya: kamu tetap “mengamati”, tetapi yang diamati adalah bukti (rekaman/arsip/data), bukan objek di tempat kejadian.
Syarat agar observasi tidak langsung valid
- Sumber jelas: ada nama lembaga/penulis, tanggal, dan konteks.
- Kredibel: sumber dapat dipertanggungjawabkan (bukan rumor, bukan akun anonim asal).
- Relevan: data benar-benar menjawab tujuan observasi, bukan sekadar “mirip topik”.
- Terbaru seperlunya: untuk fenomena yang berubah cepat, data lama bisa menyesatkan.
- Verifikasi silang: minimal bandingkan 2 sumber (triangulasi) agar tidak bergantung pada satu sumber saja.
Catatan adab (selaras syariat): hindari “mengobservasi” hal yang membuka aib orang (ghibah/namimah), jangan menyebarkan data pribadi, dan jangan memakai cara-cara mengintip.
Langkah-langkah observasi dapat dilakukan secara tidak langsung
1) Tentukan tujuan observasi (buat spesifik)
Contoh tujuan yang spesifik:
- “Mengetahui penyebab banjir di wilayah X berdasarkan laporan dan data curah hujan.”
- “Menganalisis kebiasaan membaca siswa berdasarkan hasil survei/angket kelas.”
2) Tentukan objek & indikator yang akan dicari
Contoh indikator (pilih sesuai topik): penyebab, dampak, tren, perbandingan sebelum–sesudah, data angka, dan bukti kejadian.
3) Pilih sumber/perantara data yang tepat
Misalnya: dokumen sekolah, laporan RT/RW, artikel ilmiah populer, data statistik resmi, rekaman video kegiatan, atau hasil wawancara guru/petugas.
4) Kumpulkan data dan catat bukti penting
- Catat apa data utamanya (angka/kejadian/pernyataan).
- Catat dari mana (nama sumber) dan kapan (tanggal/edisi).
- Simpan bukti seperlunya: kutipan singkat, tautan, foto dokumen (tanpa melanggar privasi).
5) Verifikasi silang (triangulasi)
Cocokkan minimal 2 sumber. Kalau sumber A bilang “penyebabnya X”, cari sumber B yang mendukung atau membantah, lalu jelaskan alasan memilih kesimpulan paling kuat.
6) Susun hasil observasi menjadi laporan singkat
Format sederhana:
- Pendahuluan: tujuan dan objek
- Metode: sumber data yang dipakai
- Hasil: temuan (fakta + bukti)
- Simpulan: rangkuman paling penting
Contoh observasi tidak langsung (tugas sekolah & sehari-hari)
- Tugas sekolah: mengamati fenomena “kenakalan remaja” melalui data berita, laporan sekolah, dan wawancara wali kelas.
- IPA/IPS: mengamati dampak sampah plastik melalui laporan lingkungan, data bank sampah, dan dokumentasi kegiatan bersih-bersih.
- Lingkungan rumah: mengamati pola pemakaian listrik lewat catatan tagihan/bukti meteran dan jadwal penggunaan alat rumah tangga.
Jenis sumber data/perantara yang sering dipakai (tabel)
| Perantara/Sumber | Contoh | Kapan cocok dipakai |
|---|---|---|
| Dokumen/arsip | Notulen rapat, tata tertib, laporan kegiatan | Butuh bukti administrasi & sejarah kejadian |
| Data statistik | Rekap nilai, data absensi, data curah hujan | Butuh tren/angka yang terukur |
| Foto/video/rekaman | Dokumentasi kegiatan, CCTV (jika legal & izin) | Butuh bukti visual peristiwa |
| Wawancara | Guru, petugas kebersihan, ketua kelas | Butuh penjelasan sebab-akibat dari pelaku/saksi |
| Angket/survei | Kuesioner kebiasaan belajar | Butuh gambaran kebiasaan banyak responden |
| Artikel/buku | Buku pelajaran, artikel ilmiah populer | Butuh teori pendukung dan konteks |
Perbedaan observasi tidak langsung vs langsung
Kalau kamu ingin melihat pembahasan observasi langsung secara lengkap, kamu bisa baca artikel pasangan (cluster) ini:
Observasi Dapat Dilakukan Secara Langsung dengan Cara Ini (Lengkap)
| Aspek | Observasi tidak langsung | Observasi langsung |
|---|---|---|
| Objek | Tidak diamati di lokasi | Diamati di lokasi |
| Sumber data | Perantara (dokumen, rekaman, wawancara, data) | Pancaindra/alat ukur di lapangan |
| Kelebihan | Hemat waktu/biaya, bisa mengamati hal yang sulit dijangkau | Lebih “real time”, detail lapangan terlihat jelas |
| Kekurangan | Rentan bias jika sumber tidak valid | Butuh waktu, bisa bias pengamat jika tidak sistematis |
Tips membuat hasil observasi tidak langsung kuat (anti ngarang)
- Gunakan indikator (angka, kutipan, bukti visual), bukan kalimat “menurut saya” tanpa data.
- Minimal pakai 2 sumber yang berbeda (triangulasi).
- Tulis temuan dengan format: Data → Makna → Bukti.
- Bedakan fakta dan interpretasi. Fakta dulu, interpretasi belakangan.
- Kalau sumbernya wawancara, catat: siapa, kapan, dan posisinya (misalnya guru mapel, petugas, ketua kelas).
Risiko & kesalahan umum
- Terjebak satu sumber: akhirnya kesimpulan ikut bias sumber tersebut.
- Sumber tidak jelas: data viral/anonim dijadikan “fakta”.
- Data tidak relevan: banyak data, tapi tidak menjawab tujuan observasi.
- Plagiarisme: menyalin tulisan sumber tanpa parafrase dan tanpa pemahaman.
- Melanggar privasi: menyebarkan dokumen internal atau identitas orang tanpa izin.
FAQ
1) Observasi dapat dilakukan secara tidak langsung dengan cara apa?
Dengan mengumpulkan data lewat perantara, seperti dokumen/arsip, data statistik, foto/video, hasil wawancara, angket/survei, atau bacaan tepercaya—lalu dianalisis dan diverifikasi silang.
2) Apa contoh observasi tidak langsung yang mudah untuk tugas sekolah?
Misalnya mengamati “kebiasaan membaca siswa” lewat angket kelas + data kunjungan perpustakaan + wawancara singkat petugas perpustakaan.
3) Kenapa observasi tidak langsung bisa lebih berisiko salah?
Karena kamu bergantung pada kualitas sumber perantara. Jika sumbernya bias atau tidak valid, kesimpulanmu ikut meleset.
4) Bagaimana cara memastikan data tidak langsung itu valid?
Pakai triangulasi: bandingkan minimal dua sumber berbeda, cek tanggal dan konteks, serta pastikan sumber kredibel.
5) Observasi tidak langsung itu sama dengan studi literatur?
Mirip, tapi tidak selalu sama. Studi literatur fokus pada bacaan (buku/jurnal/artikel). Observasi tidak langsung lebih luas karena bisa memakai perantara lain seperti data statistik, rekaman, wawancara, dan angket.
Comments
Post a Comment