Skip to main content

Cara Menghitung Kebutuhan Protein Harian: Patokan AKG Kemenkes + Rumus g/kg (Mudah untuk Pemula)

Diperbarui: 12 Desember 2025

Ringkasan cepat:

  • Ada 2 cara paling praktis menghitung kebutuhan protein: (1) pakai AKG Kemenkes sesuai umur/jenis kelamin/kondisi, atau (2) pakai rumus cepat g/kg berdasarkan berat badan.
  • Kalau kamu ingin angka yang “personal”, rumus g/kg biasanya lebih mudah. Kalau kamu butuh patokan resmi Indonesia, pakai AKG.
  • Yang sering bikin orang gagal bukan hitungannya, tapi: protein cuma numpuk di malam, atau memilih sumber protein yang tinggi gorengan/lemak jenuh.

Daftar isi

Kapan perlu menghitung kebutuhan protein?

  • Kamu sedang diet defisit kalori tapi takut lemas/otot turun.
  • Kamu sedang latihan beban atau rutin olahraga dan ingin pemulihan lebih baik.
  • Kamu mudah lapar dan ingin pola makan lebih “ngenyangin”.
  • Kamu hamil/menyusui (kebutuhan protein biasanya naik).
  • Kamu ingin membangun kebiasaan makan “cukup” (tidak kurang, tidak berlebihan).

Apa itu kebutuhan protein (dan kenapa angka orang beda-beda)?

Kebutuhan protein harian adalah perkiraan jumlah protein (gram) yang perlu kamu konsumsi per hari untuk membantu tubuh memelihara jaringan, membentuk enzim/hormon, dan mendukung pemulihan.

Angka tiap orang bisa berbeda karena dipengaruhi:

  • Berat badan
  • Usia (remaja & lansia sering butuh perhatian khusus)
  • Aktivitas (sedentary vs rutin olahraga)
  • Kondisi (hamil/menyusui)
  • Tujuan (menjaga, diet, atau menaikkan massa otot)

Syarat data yang perlu kamu siapkan

  • Umur
  • Jenis kelamin
  • Berat badan (kg)
  • Aktivitas harian (jarang olahraga / rutin olahraga / latihan beban)
  • Kondisi khusus (hamil/menyusui) bila ada

Langkah 1: Hitung pakai patokan AKG (cara cepat)

Cara ini cocok kalau kamu ingin patokan resmi “rata-rata kebutuhan” berdasarkan kelompok umur.

Langkahnya

  1. Tentukan kelompok umur dan jenis kelaminmu.
  2. Lihat angka Protein (g) pada tabel AKG.
  3. Jadikan itu target protein harian (lalu atur porsinya).

Contoh patokan (dewasa 19–29 tahun):

  • Laki-laki 19–29 tahun: 65 g protein/hari
  • Perempuan 19–29 tahun: 60 g protein/hari

Catatan hamil/menyusui (tambahan dari AKG):

  • Hamil trimester 2: +10 g protein/hari
  • Hamil trimester 3: +30 g protein/hari
  • Menyusui 6 bulan pertama: +20 g protein/hari

Langkah 2: Hitung pakai rumus berat badan (g/kg) (paling personal)

Ini cara paling mudah dan personal, karena langsung mengikuti berat badan.

Rumus dasar

Kebutuhan protein (gram/hari) = Berat badan (kg) × Target (g/kg)

Pilih target g/kg (panduan sederhana)

  • Jarang olahraga / aktivitas ringan: sekitar 0,8 g/kg
  • Rutin olahraga (campuran kardio + beban ringan): sering dipakai kisaran 1,0–1,2 g/kg
  • Latihan beban rutin / ingin naik massa otot: sering dipakai kisaran 1,2–1,6 g/kg

Catatan: Jika kamu punya penyakit ginjal, kondisi medis tertentu, atau sedang hamil/menyusui, sebaiknya konsultasi tenaga kesehatan untuk target yang aman.

Contoh hitung (angka nyata)

Contoh 1 (aktivitas ringan)

Berat badan 70 kg, jarang olahraga:

  • Target = 0,8 g/kg
  • Kebutuhan = 70 × 0,8 = 56 gram protein/hari

Contoh 2 (rutin olahraga)

Berat badan 55 kg, olahraga 3–4x seminggu:

  • Target = 1,2 g/kg
  • Kebutuhan = 55 × 1,2 = 66 gram protein/hari

Kenapa hasil rumus bisa beda dengan AKG?

AKG adalah angka anjuran berbasis kelompok (umur/jenis kelamin) dengan asumsi rata-rata tertentu. Rumus g/kg lebih “mengikuti tubuhmu” karena langsung memakai berat badan.

Konversi ke makanan: contoh porsi harian yang realistis

Supaya tidak bingung, target protein itu sebaiknya dibagi ke 2–4 waktu makan.

Contoh pembagian 60 gram protein/hari

  • Pagi: 15 g
  • Siang: 20 g
  • Sore/malam: 20 g
  • Camilan: 5 g (opsional)

Contoh “paket” protein (perkiraan sederhana)

Berikut contoh takaran yang sering dipakai sebagai gambaran (angka bisa berbeda tergantung merek/olahannya):

  • 1 gelas susu (±250 ml): sekitar 8 g
  • 1 porsi yogurt: sekitar 11 g
  • 1 potong daging tanpa lemak ukuran “kartu remi” (±85 g): sekitar 21 g
  • 1 porsi kacang/beans (±1 cup): sekitar 16 g

Prinsip halal & thayyib: pilih sumber protein yang halal, bersih, dan tidak berlebihan. Kalau bisa, minimalkan olahan ultra-proses dan cara masak yang membuatnya jadi “protein + gorengan”.

Tips agar target protein tercapai tanpa “maksain”

  • Jangan numpuk di malam. Lebih mudah tercapai kalau dibagi 2–4 kali makan.
  • Utamakan cara masak ringan (rebus, kukus, panggang, tumis tipis) agar protein tidak “ketutup” lemak berlebih.
  • Pasangkan dengan serat (sayur/buah) agar kenyang lebih stabil.
  • Kalau kamu diet: jangan cuma potong nasi, tapi rapikan “paket makan” (protein cukup, sayur cukup, gula/minuman manis dikurangi).

Risiko kekurangan/kelebihan protein

  • Kekurangan protein bisa membuat lebih mudah lapar, pemulihan olahraga lambat, dan massa otot lebih mudah turun (terutama saat defisit kalori).
  • Kelebihan protein sering terjadi bukan karena proteinnya, tapi karena sumbernya tinggi lemak jenuh/olahannya “berat”. Pada kondisi medis tertentu (misalnya gangguan ginjal), target tinggi perlu arahan tenaga kesehatan.

FAQ

1) Lebih bagus pakai AKG atau rumus g/kg?
Kalau ingin patokan resmi Indonesia, pakai AKG. Kalau ingin angka yang lebih personal mengikuti berat badan, pakai rumus g/kg.
2) Saya diet, apakah protein harus dinaikkan?
Banyak orang merasa lebih terbantu saat protein cukup karena lebih kenyang dan pemulihan lebih baik. Namun, angka pastinya tergantung berat badan, aktivitas, dan kondisi kesehatan.
3) Apakah protein hewani selalu lebih baik?
Tidak selalu. Yang penting adalah protein halal, thayyib, dan pola makan seimbang. Protein nabati (kacang-kacangan) juga baik, apalagi jika variasinya bagus.
4) Bolehkah minum suplemen protein?
Boleh saja jika diperlukan dan cocok, tapi jangan jadi jalan pintas yang membuat makan berantakan. Pastikan produknya halal dan komposisinya jelas.
5) Kapan saya sebaiknya konsultasi dokter/ahli gizi?
Jika punya penyakit ginjal/hati, sedang hamil/menyusui dengan keluhan tertentu, atau punya kondisi medis yang membuat diet harus spesifik.

Baca juga di Beginisob.com

Comments

Edukasi Terpopuler

Connect With Us

Copyright @ 2023 beginisob.com, All right reserved