Diperbarui: 10 Desember 2025
Ringkasan cepat:
- Tahun pelajaran 2025/2026, sekolah di Indonesia tetap boleh memakai Kurikulum 2013 (K13) dan/atau Kurikulum Merdeka sesuai kesiapan satuan pendidikan, bukan ganti total ke kurikulum baru.
- Kurikulum 2013 memakai istilah KI–KD, silabus, RPP, penilaian cenderung seragam, dan struktur mapel relatif kaku. Kurikulum Merdeka memakai CP–TP–ATP, modul ajar, lebih fleksibel, dan menekankan Profil Pelajar Pancasila serta pembelajaran berbasis projek.
- Guru, siswa, dan orang tua perlu memahami perbedaan keduanya agar tidak bingung dengan istilah baru, target belajar, dan cara penilaian – khususnya untuk mapel PPKn/Pendidikan Pancasila.
- Dari sisi syariat, perbedaan kurikulum tidak boleh membuat lalai terhadap kewajiban agama. Guru Muslim tetap bisa memilih contoh, materi, dan projek yang selaras dengan nilai Islam dan tidak bertentangan dengan akidah.
Daftar isi
- Kapan guru, siswa, dan orang tua perlu memahami perbedaan K13 dan Kurikulum Merdeka?
- Apa itu Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka (ringkas)?
- Syarat dan gambaran sekolah yang menerapkan Kurikulum Merdeka
- 7 perbedaan utama Kurikulum Merdeka vs Kurikulum 2013
- Langkah adaptasi guru dan siswa di era Kurikulum Merdeka
- Tips belajar dan mengajar agar tetap islami di kedua kurikulum
- Risiko kalau salah paham perbedaan kurikulum
- FAQ: Pertanyaan yang sering muncul
- Baca juga di Beginisob.com
Kapan guru, siswa, dan orang tua perlu memahami perbedaan K13 dan Kurikulum Merdeka?
Perbedaan kurikulum bukan sekadar ganti nama di buku raport. Di lapangan, ia mempengaruhi:
- Istilah yang dipakai di perangkat ajar (KI–KD vs CP–TP–ATP).
- Cara guru menilai hasil belajar (nilai angka vs capaian kompetensi).
- Beban belajar siswa dan jenis tugas (LKS biasa vs projek Profil Pelajar Pancasila).
Guru, siswa, dan orang tua wajib mulai serius memahami perbedaan ini kalau:
- Sekolah resmi menyatakan sudah atau akan beralih ke Kurikulum Merdeka pada sebagian/seluruh kelas.
- Di rapor mulai muncul istilah Pendidikan Pancasila menggantikan PPKn, atau ada kolom projek P5.
- Guru diminta membuat perangkat ajar dengan format CP–TP–ATP dan modul ajar.
- Orang tua bingung kenapa tugas anak banyak berbentuk projek, diskusi kasus, dan presentasi kelompok.
Apa itu Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka (ringkas)?
1. Kurikulum 2013 (K13)
Kurikulum 2013 adalah kurikulum nasional yang menekankan pengembangan kompetensi sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Ciri-ciri utamanya:
- Menggunakan istilah Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD).
- Perangkat guru berbentuk silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran).
- Penilaian menggunakan angka dan deskripsi, dengan penekanan pada pendekatan saintifik (mengamati, menanya, mencoba, menalar, mengomunikasikan).
- Struktur jam pelajaran relatif tetap dan seragam nasional.
2. Kurikulum Merdeka
Kurikulum Merdeka adalah kurikulum yang memberi lebih banyak fleksibilitas kepada sekolah dan guru untuk mengatur pembelajaran sesuai karakteristik siswa. Ciri-ciri umumnya:
- Menggunakan istilah Capaian Pembelajaran (CP), Tujuan Pembelajaran (TP), dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP).
- Perangkat guru berbentuk modul ajar, bukan RPP panjang.
- Menekankan pembelajaran berdiferensiasi (menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswa).
- Ada projek Profil Pelajar Pancasila (P5) untuk menanamkan karakter dan kompetensi abad 21.
- Sekolah relatif lebih leluasa mengatur beban belajar dan pengelompokan mata pelajaran.
Secara regulasi terbaru, kedua kurikulum ini masih sah digunakan, dan Permendikdasmen 13/2025 justru memperkuat keberadaan K13 dan Kurikulum Merdeka, bukan mengganti salah satunya.
Syarat dan gambaran sekolah yang menerapkan Kurikulum Merdeka
Tidak semua sekolah langsung “wajib” merdeka. Umumnya, sekolah yang menerapkan Kurikulum Merdeka adalah:
- Sekolah penggerak atau sekolah yang ditetapkan pemerintah mengikuti program tertentu.
- Sekolah yang secara mandiri menyatakan siap beralih, dengan dukungan guru dan sarana memadai.
Sekolah yang belum siap boleh tetap menggunakan K13 sambil bertahap menyiapkan:
- Kapasitas guru membaca CP–TP–ATP dan menyusun modul ajar.
- Sarana pembelajaran yang mendukung projek (laboratorium, lingkungan sekitar, perangkat digital bila ada).
- Budaya sekolah yang mendorong siswa aktif dan kreatif, bukan hanya menghafal.
7 perbedaan utama Kurikulum Merdeka vs Kurikulum 2013
Berikut 7 perbedaan paling penting yang perlu dipahami guru, siswa, dan orang tua:
1. Istilah kompetensi: KI–KD vs CP–TP–ATP
- K13: menggunakan Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) per kelas dan per tahun.
- Kurikulum Merdeka: menggunakan Capaian Pembelajaran (CP) per fase (beberapa tahun), yang kemudian diturunkan menjadi Tujuan Pembelajaran (TP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP).
- Dampaknya: guru tidak lagi terpaku pada KD per pertemuan, tetapi pada CP akhir fase yang harus tercapai secara bertahap.
2. Perangkat ajar: silabus & RPP vs modul ajar
- K13: guru menyusun silabus dan RPP (kadang sangat panjang) untuk tiap pertemuan.
- Kurikulum Merdeka: guru menyusun modul ajar yang lebih ringkas tetapi lengkap (tujuan, langkah, asesmen, dan bahan ajar).
- Modul ajar memberi ruang kreativitas guru, asalkan tetap mengacu pada CP dan nilai-nilai yang dijaga (termasuk nilai Islam untuk guru Muslim).
3. Pendekatan pembelajaran
- K13: menekankan pendekatan saintifik (5M) dan pembelajaran tematik (khususnya di SD).
- Kurikulum Merdeka: menekankan pembelajaran diferensiasi (menyesuaikan dengan profil siswa), projek, dan eksplorasi.
- Di kelas PPKn/Pendidikan Pancasila, misalnya, lebih ditekankan diskusi kasus nyata, projek layanan sosial, dan refleksi nilai-nilai Pancasila dan agama.
4. Struktur mata pelajaran
- Di K13: struktur mapel lebih seragam dan baku, jam pelajaran diatur ketat per minggu.
- Di Kurikulum Merdeka: struktur lebih fleksibel, beberapa mapel bisa diintegrasikan, dan ada ruang khusus untuk projek Profil Pelajar Pancasila.
- Beberapa istilah mapel berubah, misalnya PPKn menjadi Pendidikan Pancasila pada jalur Kurikulum Merdeka.
5. Penilaian hasil belajar
- K13: penilaian cenderung berupa nilai angka dan deskripsi raport per KI–KD.
- Kurikulum Merdeka: penilaian lebih menekankan capaian kompetensi yang ditulis dalam bentuk narasi dan/atau level capaian.
- Nilai bukan hanya angka ujian, tetapi juga hasil projek, sikap, dan keterlibatan siswa.
6. Projek Profil Pelajar Pancasila
- Hanya di Kurikulum Merdeka ada projek wajib Profil Pelajar Pancasila (P5) yang mengangkat tema seperti beriman dan berakhlak mulia, gotong royong, bernalar kritis, kreatif, dan sebagainya.
- Ini bisa menjadi peluang besar bagi guru Muslim untuk memasukkan nilai-nilai Islam secara lebih nyata melalui projek (misalnya projek sedekah, anti-bully, literasi masjid, dll.).
7. Fleksibilitas sekolah dan guru
- K13: relatif lebih terpusat; sekolah mengikuti struktur dan buku paket yang disediakan.
- Kurikulum Merdeka: memberi fleksibilitas lebih tinggi: sekolah dan guru boleh mengembangkan perangkat dan bahan ajar sendiri sepanjang sejalan dengan CP.
- Fleksibilitas ini bisa menguntungkan kalau diisi dengan ilmu yang benar dan nilai syar’i, tetapi juga berbahaya jika guru tidak selektif menyaring materi dari internet/medsos.
Langkah adaptasi guru dan siswa di era Kurikulum Merdeka
Beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan:
- Baca dokumen resmi, bukan hanya info viral. Guru sebaiknya membaca ringkasan CP, panduan Kurikulum Merdeka, dan regulasi terbaru. Siswa dan orang tua cukup memahami garis besarnya.
- Mapping materi lama ke istilah baru. Contoh: materi UUD 1945, HAM, Pancasila di K13 tetap ada di Kurikulum Merdeka, hanya istilah perangkatnya yang berubah.
- Diskusikan di KKG/MGMP. Guru PPKn/Pendidikan Pancasila bisa berbagi modul, contoh projek, dan cara mengaitkan dengan nilai Islam dan realitas digital.
- Latih siswa lebih aktif. Ajak siswa bertanya, berdiskusi, mengerjakan projek, dan refleksi; bukan sekadar mencatat dan menghafal.
Tips belajar dan mengajar agar tetap islami di kedua kurikulum
- Pilih contoh kasus yang baik. Saat menjelaskan HAM, demokrasi, atau toleransi, ambil contoh yang sejalan dengan syariat: menolak kebebasan tanpa batas, tetapi tetap adil kepada semua.
- Filter sumber digital. Kurikulum Merdeka sering menggunakan video, artikel, dan media digital. Guru perlu menyaring agar siswa tidak terpapar konten yang haram atau merusak akidah.
- Hubungkan Pancasila dengan nilai Islam. Misalnya: sila Ketuhanan Yang Maha Esa dengan tauhid, sila Keadilan Sosial dengan keadilan Islam, dan seterusnya.
- Atur waktu projek dan ibadah. Jangan sampai projek P5 atau tugas sekolah mengganggu kewajiban shalat dan belajar agama.
Risiko kalau salah paham perbedaan kurikulum
- Guru kebingungan membuat perangkat ajar. Jika tidak paham CP–TP–ATP, modul ajar bisa asal jadi, siswa pun bingung.
- Siswa stres karena merasa “kurikulumnya susah”. Padahal yang berubah adalah pendekatan, bukan semata-mata “soal lebih sulit”.
- Orang tua salah menilai sekolah. Ada yang mengira Kurikulum Merdeka berarti sekolah bebas tanpa aturan, padahal tetap ada standar baku dari pemerintah.
- Peluang pendidikan karakter islami terlewat. Padahal, dengan projek dan fleksibilitas baru, guru justru bisa memasukkan lebih banyak kegiatan yang menanamkan akhlak.
FAQ: Pertanyaan yang sering muncul
1. Apakah Kurikulum Merdeka menggantikan Kurikulum 2013?
Tidak langsung menggantikan. Berdasarkan regulasi terbaru, sekolah masih boleh menggunakan Kurikulum 2013 dan/atau Kurikulum Merdeka sesuai kesiapan. Pemerintah justru menegaskan keberlanjutan dua kurikulum ini dengan penyempurnaan di beberapa aspek.
2. Kurikulum mana yang lebih baik: K13 atau Kurikulum Merdeka?
Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Kurikulum Merdeka menawarkan fleksibilitas dan projek karakter yang lebih kuat, sementara K13 relatif lebih terstruktur dan sudah lama digunakan. Yang paling penting adalah bagaimana guru mengajar dan menjaga nilai agama, bukan hanya nama kurikulumnya.
3. Apakah buku pelajaran lama masih bisa digunakan di Kurikulum Merdeka?
Beberapa materi di buku K13 masih relevan, terutama konsep dasar PPKn, IPA, IPS, dan lain-lain. Namun guru perlu menyesuaikan urutan, kedalaman, dan cara penyajian dengan CP dan modul ajar Kurikulum Merdeka. Buku lama jangan dijadikan satu-satunya acuan.
4. Apa yang harus dilakukan orang tua jika sekolah anak menerapkan Kurikulum Merdeka?
Orang tua bisa:
- Menanyakan garis besar perubahan kepada wali kelas atau guru BK.
- Membantu anak mengatur waktu antara projek sekolah, belajar, dan ibadah.
- Mendampingi penggunaan gadget saat mengerjakan tugas berbasis internet.
- Diskusi tentang nilai-nilai Pancasila dan Islam di rumah supaya sejalan dengan yang dipelajari di sekolah.
Baca juga di Beginisob.com
- Jelaskan Perubahan Kurikulum Pendidikan Indonesia 2026: Dampak pada PPKn dan Tips Adaptasi Guru
- Jelaskan Pengertian Kurikulum Tersembunyi (Hidden Curriculum) dan Contohnya di Sekolah
- Jelaskan Pengertian Blended Learning di PPKn Sekolah Dasar: Contoh dan Langkah Penerapan
- Jelaskan Pengertian Hak Asasi Manusia (HAM) dan Contohnya dalam Kehidupan Sehari-hari di Indonesia
- Jelaskan Pengertian Bela Negara, Tujuan, dan Contohnya bagi Pelajar di Sekolah dan Dunia Maya
Comments
Post a Comment