Skip to main content

Info Kesehatan Terbaru: Indonesia Mulai Uji Klinis Vaksin Dengue Satu Dosis di Tengah 131 Ribu Kasus DBD 2025

Diperbarui: 10 Desember 2025

Ringkasan cepat:

  • Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia tahun 2025 masih tinggi: Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 131.393 kasus dengan 544 kematian sampai akhir Oktober 2025, sekitar 7% kasus DBD global.
  • Di saat yang sama, Indonesia bersama berbagai pihak memulai uji klinis tahap lanjut vaksin dengue satu dosis (V181-005) yang melibatkan lebih dari 10.000 partisipan sehat di beberapa negara, termasuk sekitar 1.000 partisipan dari Indonesia usia 2–17 tahun.
  • Vaksin ini masih dalam tahap penelitian dan belum tersedia untuk masyarakat umum. Keputusan boleh/tidaknya digunakan nanti ditetapkan oleh BPOM setelah hasil uji klinis lengkap dan biasanya juga akan diperhatikan aspek kehalalan melalui otoritas terkait.
  • Sampai vaksin benar-benar terbukti aman, efektif, dan mendapat izin edar, perlindungan utama terhadap DBD tetap 3M Plus (menguras, menutup, mengubur, plus langkah tambahan), mewaspadai gejala demam, dan segera periksa ke fasilitas kesehatan bila dicurigai DBD.
  • Artikel ini merangkum info kesehatan terbaru soal DBD dan vaksin dengue satu dosis dengan bahasa sederhana: kapan Anda perlu peduli, apa yang sedang diuji, langkah praktis mencegah DBD di rumah, dan cara menyaring info kesehatan di media sosial agar tidak termakan hoaks.

Daftar isi

Kapan Anda perlu peduli dengan info vaksin dengue satu dosis ini?

Sekilas, berita “uji klinis vaksin dengue satu dosis” terlihat seperti kabar yang hanya relevan untuk dokter dan peneliti. Padahal, informasi ini penting untuk banyak orang, terutama jika Anda:

  • Orang tua dengan anak usia 2–17 tahun, karena kelompok usia ini yang paling banyak disasar uji klinis dan paling rentan mengalami DBD berat.
  • Tinggal di daerah endemis DBD (kota-kota padat di Jawa, Bali, dan daerah dengan kasus tinggi menurut laporan Kemenkes).
  • Aktif di sekolah, pesantren, asrama, atau lingkungan padat di mana penularan nyamuk Aedes aegypti lebih mudah terjadi.
  • Pengurus RT/RW, penggerak jumantik, atau relawan kesehatan yang sering menggerakkan kerja bakti lingkungan.
  • Pekerja/mahasiswa yang ingin memahami isu kesehatan publik terkini untuk tugas kuliah, skripsi, atau sekadar melek info.

Dengan memahami garis besar uji klinis vaksin dengue dan situasi DBD di Indonesia, Anda bisa:

  • lebih tenang saat membaca berita (tidak mudah panik, tidak mudah termakan hoaks);
  • lebih siap menjaga keluarga dari DBD secara praktis di rumah;
  • bijak ketika kelak ada program vaksinasi baru, sehingga keputusan mengikuti program benar-benar berdasarkan ilmu dan fatwa yang sah, bukan sekadar ikut-ikutan.

Apa itu vaksin dengue satu dosis yang sedang diuji di Indonesia?

Secara singkat, vaksin dengue yang sedang ramai diberitakan adalah vaksin kandidat V181-005 yang sedang memasuki uji klinis fase 3 secara multinasional di beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Beberapa poin penting yang perlu diketahui:

  • Vaksin ini dirancang untuk mencegah infeksi virus dengue penyebab DBD.
  • Cukup satu kali suntikan (single dose), berbeda dengan beberapa vaksin sebelumnya yang butuh lebih dari satu dosis.
  • Uji klinis melibatkan anak usia mulai 2 tahun hingga remaja 17 tahun selain orang dewasa, karena kelompok ini paling sering terdampak DBD berat.
  • Penelitian ini bertujuan menilai keamanan (safety), kemampuan membentuk antibodi (imunogenisitas), dan keefektifan (efikasi) vaksin dalam mencegah dengue jangka panjang.
  • Uji klinis fase 3 direncanakan berlangsung kira-kira lima tahun untuk betul-betul memantau efek jangka panjang pada ribuan partisipan.

Penting: vaksin ini belum otomatis boleh digunakan. Setelah uji klinis selesai, datanya akan dianalisis dan diserahkan ke:

  • BPOM sebagai otoritas pengawas obat & vaksin di Indonesia;
  • lembaga fatwa & sertifikasi halal (misalnya MUI dan BPJPH) untuk memastikan aspek kehalalan bahan dan proses, sebelum dipakai luas oleh umat Islam.

Jadi, berita ini lebih tepat dipahami sebagai “harapan baru yang sedang diuji”, bukan pengumuman vaksin baru yang langsung bisa disuntikkan ke semua orang.

Syarat dan gambaran umum uji klinis vaksin dengue di Indonesia

Secara garis besar, uji klinis vaksin dengue satu dosis di Indonesia mengikuti standar Cara Uji Klinik yang Baik (CUKB) dan diawasi oleh BPOM serta komite etik.

Beberapa hal yang biasanya terjadi dalam uji klinis besar seperti ini:

  • Partisipan sehat (antara lain anak 2–17 tahun) akan diseleksi ketat dan hanya yang memenuhi kriteria kesehatan tertentu yang boleh ikut.
  • Orang tua/wali harus menandatangani informed consent (persetujuan setelah mendapat penjelasan lengkap).
  • Partisipan dibagi ke beberapa kelompok (misalnya kelompok vaksin dan kelompok pembanding), lalu dipantau rutin selama beberapa tahun.
  • Setiap efek samping yang muncul akan dicatat dan dievaluasi oleh tim peneliti dan pengawas.

Karena sifatnya penelitian, masyarakat umum tidak bisa sekadar “datang minta disuntik”. Jalurnya adalah undangan/seleksi di pusat-pusat penelitian yang ditunjuk (misalnya RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo dan puskesmas tertentu di DKI Jakarta).

Bagaimana hubungannya dengan tingginya kasus DBD 2025?

Menurut data resmi Kemenkes, sampai akhir Oktober 2025 tercatat sekitar 131.393 kasus DBD dengan 544 kematian, sehingga Indonesia menyumbang lebih dari 7% kasus DBD global.

Meski angka kematian menurun hampir 50% dibanding tahun 2024, beban penyakit dan biaya pengobatan masih sangat besar (hingga lebih dari Rp 1 triliun di BPJS untuk periode Januari–Agustus 2025 saja).

Karena itu, pemerintah dan berbagai pihak mendorong dua jalur sekaligus:

  • Pencegahan klasik: 3M Plus, edukasi masyarakat, jumantik, perbaikan lingkungan.
  • Inovasi jangka panjang: termasuk uji klinis vaksin dengue satu dosis ini, yang diharapkan bisa menurunkan kasus dan kematian di masa depan jika nanti terbukti aman dan efektif.

Langkah praktis melindungi keluarga dari DBD sambil menunggu vaksin

Sambil menunggu hasil uji klinis dan keputusan resmi pemerintah, perlindungan paling nyata tetap ada di tangan kita melalui kebiasaan sehari-hari. Beberapa langkah yang relatif sederhana namun sangat penting:

1. Jalankan 3M Plus secara konsisten

  • Menguras tempat penampungan air (bak mandi, ember, toren) secara rutin.
  • Menutup rapat semua tempat penampungan air.
  • Mengubur/mendaur ulang barang bekas yang bisa menampung air (kaleng, ban, botol).
  • Plus: memakai lotion anti-nyamuk yang aman, memasang kelambu, memperbaiki ventilasi dan pencahayaan, serta menanam tanaman yang bisa membantu mengusir nyamuk di halaman (insya Allah selama tidak diyakini sebagai jimat).

2. Waspadai gejala demam di musim hujan

Gejala awal DBD sering mirip flu: demam, sakit kepala, nyeri otot, kadang muncul ruam. Jika ada demam tinggi yang tidak biasa, jangan dianggap enteng.

Segera periksa ke puskesmas/RS bila:

  • demam tinggi lebih dari 2 hari tanpa sebab jelas;
  • muncul tanda-tanda bahaya seperti nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, mimisan/berdarah, tampak sangat lemas, atau gelisah;
  • ada riwayat kasus DBD di lingkungan sekitar rumah.

Pengobatan DBD harus melalui tenaga kesehatan. Hindari menunda karena sibuk kerja, takut biaya, atau berharap “sembuh sendiri”. Untuk masalah biaya, jangan lupa manfaatkan BPJS Kesehatan dan layanan JKN.

3. Pastikan akses ke layanan kesehatan berjalan lancar

Supaya tidak ribet urusan administrasi saat sakit, pastikan:

Ikhtiar mengurangi beban biaya dengan cara-cara yang halal dan transparan akan sangat membantu ketika tiba-tiba ada anggota keluarga yang harus dirawat karena DBD.

Tips menyaring informasi kesehatan tentang DBD dan vaksin di media sosial

Banyak hoaks beredar tentang DBD dan vaksin: mulai dari klaim obat instan, teori konspirasi vaksin, sampai pesan berantai yang menakut-nakuti. Beberapa tips agar tetap waras dan tenang:

  • Cek sumbernya: berita resmi Kemenkes, BPOM, WHO, dan media nasional yang kredibel jauh lebih bisa dipercaya daripada broadcast WhatsApp tanpa nama.
  • Waspadai klaim berlebihan: “obat pasti sembuh”, “anti-DBD 100%”, “vaksin pasti haram” atau “vaksin pasti tanpa efek samping” adalah pola klaim yang patut dicurigai.
  • Jangan gampang share sebelum membaca tuntas dan memeriksa kebenarannya. Menyebarkan info salah tentang kesehatan bisa ikut menjerumuskan orang lain.
  • Utamakan pendapat dokter dan tenaga kesehatan yang berkompeten, bukan hanya selebgram atau influencer.
  • Dari sisi syariat: jauhi pengobatan yang jelas haram (misalnya mengandung bahan najis tanpa darurat dan tanpa fatwa yang membolehkan), praktik perdukunan, dan janji-janji mistis yang tidak ada landasan medis maupun syar’i.

Risiko jika mengabaikan kewaspadaan DBD di musim hujan

Meskipun ada kabar baik berupa penurunan kematian dan dimulainya uji klinis vaksin, DBD belum hilang dari Indonesia. Jika kita lengah, risikonya antara lain:

  • Kematian yang sebenarnya bisa dicegah karena terlambat dibawa ke fasilitas kesehatan.
  • Keluarga bangkrut karena biaya pengobatan besar, apalagi jika tanpa jaminan kesehatan.
  • Lingkungan menjadi sarang nyamuk dan menimbulkan klaster DBD di RT/RW yang sama.
  • Hoaks kesehatan menyebar dan membuat orang menolak program pencegahan yang sebenarnya bermanfaat.

Karena itu, sikap yang paling seimbang adalah tidak panik, tapi juga tidak meremehkan. Ikuti informasi resmi, jalankan 3M Plus, jaga kebersihan, dan gunakan fasilitas kesehatan yang ada.

FAQ: Info kesehatan terbaru tentang DBD dan vaksin dengue

1. Apakah vaksin dengue satu dosis sudah bisa dipakai untuk umum di Indonesia?

Belum. Saat ini vaksin dengue satu dosis (V181-005) masih dalam tahap uji klinis fase 3 di beberapa negara termasuk Indonesia. Setelah penelitian selesai dan datanya dianalisis, barulah BPOM menilai apakah vaksin ini aman dan efektif. Kalau pun nanti disetujui, biasanya masih ada tahapan rekomendasi dari Kemenkes dan proses sertifikasi halal sebelum digunakan secara luas.

2. Kenapa kasus DBD di Indonesia masih tinggi padahal tiap tahun ada fogging?

Data Kemenkes menunjukkan bahwa lebih dari 131 ribu kasus DBD dengan ratusan kematian masih terjadi sampai akhir Oktober 2025. Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa dalam waktu terbatas. Jika tempat berkembang biak (genangan air) tidak dibereskan, jentik tetap akan tumbuh dan nyamuk baru akan muncul. Karena itu, fogging harus disertai 3M Plus dan perubahan perilaku di rumah dan lingkungan.

3. Apakah vaksin dengue satu dosis aman untuk anak?

Justru karena menyasar kelompok risiko tinggi seperti anak 2–17 tahun, keamanan vaksin sedang diuji sangat ketat melalui uji klinis jangka panjang dengan ribuan partisipan dan pengawasan BPOM plus komite etik. Hasil akhirnya belum keluar. Untuk saat ini, yang bisa dilakukan orang tua adalah mengikuti program vaksin rutin yang sudah resmi, menjaga kebersihan lingkungan, dan membawa anak segera ke fasilitas kesehatan bila demam mencurigakan.

4. Apa yang harus dilakukan jika ada demam tinggi di musim DBD?

Jika ada anggota keluarga demam tinggi, terutama di musim hujan atau di daerah dengan kasus DBD, sebaiknya:

  • ukur suhu dan amati gejalanya;
  • hindari mengobati sendiri berhari-hari tanpa konsultasi;
  • segera periksa ke puskesmas/RS untuk evaluasi medis;
  • ikuti anjuran dokter, termasuk jika diminta cek darah atau rawat inap.

Artikel Beginisob lain tentang keluhan spesifik — misalnya kencing berbusa tapi tidak sakit atau tenggorokan terasa mengganjal tapi tidak sakit — bisa membantu Anda memahami gejala umum, tetapi tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter.

5. Benarkah jambu biji bisa menyembuhkan DBD?

Di masyarakat, jambu biji (dan jusnya) sering dikonsumsi untuk membantu pemulihan, terutama karena kandungan vitamin C dan antioksidan. Salah satu artikel Beginisob tentang tabulampot jambu biji juga menyebut jambu biji sering dimanfaatkan untuk pasien DBD.

Namun, yang perlu digarisbawahi:

  • jambu biji bukan pengganti perawatan medis dan bukan “obat ajaib” DBD;
  • pengobatan utama DBD tetap berupa pemantauan medis, cairan, dan tata laksana rumah sakit sesuai pedoman kedokteran;
  • konsumsi buah dan makanan sehat boleh-boleh saja selama tidak bertentangan dengan nasihat dokter dan tidak diyakini sebagai “satu-satunya penyelamat”.

Baca juga artikel kesehatan terkait di Beginisob.com

Comments

Edukasi Terpopuler

Connect With Us

Copyright @ 2023 beginisob.com, All right reserved