Skip to main content

Cara Membuat Packaging Produk UMKM dari Nol: Pilih Jenis Kemasan, Ukuran, Desain Label, Cetak, QC, dan Simulasi Biaya per Produk

Diperbarui: 18 Januari 2026

Ringkasan cepat:

  • “Membuat packaging” itu bukan cuma desain: urutannya yang benar adalah tentukan channel → pilih jenis kemasan → ukur & uji isi → pilih material → desain label → cetak sampel → QC → hitung biaya.
  • Untuk makanan/minuman, utamakan kemasan food grade + label yang informasinya jelas, karena ini menyangkut keamanan konsumen.
  • Mulai dari batch kecil (contoh 100–300 pcs) untuk uji pasar, baru naikkan order setelah ukuran dan material benar-benar “ketemu”.
  • Hindari klaim berlebihan/menipu di kemasan; dalam jual-beli, amanah itu wajib (lebih berkah dan mengurangi komplain).

Daftar isi

Apa maksud “membuat packaging” (biar tidak salah fokus)

Di lapangan, “membuat packaging” biasanya mencakup 3 hal besar:

  • Wadah/kemasan fisik (standing pouch, botol, cup, box, dsb.)
  • Label & informasi (nama produk, komposisi, netto, kontak produsen, izin edar, dll.)
  • Sistem pengemasan (cara menutup, segel, tanggal produksi, penyimpanan, dan standar QC)

Kalau kamu ingin memahami “kenapa merek, kemasan, dan label itu penting” dari sisi pemasaran dasar, Beginisob sudah membahasnya di Menjelaskan Pentingnya Pemberian Merek, Pengemasan, dan Pelabelan.

Langkah 1: Tentukan target penjualan & kebutuhan kemasan

Sebelum pilih bentuk kemasan, jawab 5 pertanyaan ini (tulis di kertas):

  • Produk apa? (kering, basah, berminyak, bubuk, beku)
  • Dijual di mana? (offline/titip toko/marketplace/kurir jauh)
  • Berat/isi per pcs? (mis. 80 g, 100 g, 250 ml, 1 kg)
  • Target harga jual? (ini mempengaruhi plafon biaya kemasan)
  • Apakah perlu tahan banting? (pengiriman jarak jauh butuh proteksi tambahan)

Untuk produk makanan rumahan yang mau naik kelas, biasanya nanti ketemu urusan legalitas (NIB, PIRT/BPOM, dan halal). Kamu bisa pakai Checklist Legalitas Usaha Kuliner 2025: NIB, PIRT, Halal, dan Izin Lain sebagai peta besar, supaya packaging kamu tidak “asal bagus” tapi mentok saat mau masuk toko/marketplace.

Langkah 2: Pilih jenis packaging yang cocok (contoh per produk)

Gunakan patokan sederhana: kondisi produk + cara distribusi.

Jenis produk Kebutuhan utama Packaging yang umum dipakai
Snack kering (keripik, cookies) Anti lembap, anti remuk Standing pouch + zipper / pouch + sealer; tambah bubble wrap saat kirim
Bubuk (minuman, bumbu) Anti lembap, rapi Sachet (laminasi) / standing pouch kecil
Basah/berminyak (sambal, abon berminyak) Tahan bocor, aman minyak Botol PET/PP + segel; atau pouch khusus liquid + nozzle (lebih mahal)
Beku (frozen food) Tahan suhu rendah Plastik khusus frozen (food grade) + vacuum sealer (opsional)

Untuk standar kemasan makanan yang baik (fungsi melindungi produk, informasi, dan daya tarik), Beginisob sudah punya pembahasannya di Bagaimana Syarat Kemasan yang Baik untuk Olahan Makanan?. Artikel ini melanjutkan ke “cara membuatnya” secara teknis.

Langkah 3: Tentukan ukuran dengan uji isi (wajib) + tabel simulasi

Kesalahan paling sering: langsung pesan kemasan karena “kelihatan pas” di foto. Yang benar: uji isi dulu memakai sampel kemasan (atau minimal kertas pola) supaya tidak kekecilan/kegedean.

1) Uji isi sederhana (tanpa alat mahal)

  1. Tentukan berat/isi per pcs (mis. 100 g keripik).
  2. Masukkan produk ke wadah uji (plastik bening/stoples) lalu ukur volume kira-kira.
  3. Jika produk mudah hancur, sisakan ruang kosong (headspace) agar tidak remuk.
  4. Catat hasilnya, lalu bandingkan dengan ukuran kemasan yang dijual vendor.

2) Tabel simulasi ukuran (contoh yang bisa kamu tiru)

Produk Isi per pcs Hasil uji “penuh” Saran ukuran kemasan Catatan
Keripik 100 g ±70% standing pouch 14×22 cm Standing pouch 14×22 cm (atau 16×24 cm jika ingin “premium look”) Tambah headspace untuk anti remuk
Sambal 250 g Botol 250–300 ml Botol 300 ml (lebih aman, tidak meluber saat tutup) Butuh segel & uji bocor
Minuman bubuk 20 g Sachet kecil Sachet 8×12 cm (tergantung bulk density bubuk) Wajib anti lembap

Kalau produk kamu makanan rumahan dan kamu berniat jual rutin, biasanya label dan kemasan akan nyambung ke PIRT. Beginisob sudah membahas alurnya di Cara Mengurus Izin PIRT 2025 untuk Usaha Makanan Rumahan (supaya packaging kamu tidak “salah format” saat mau urus izin).

Langkah 4: Pilih material & keamanan (food grade + kondisi produk)

Untuk makanan/minuman, pilih kemasan yang jelas peruntukannya (food grade) dan sesuai kondisi produk:

  • Kering & sensitif lembap: butuh laminasi yang tahan uap air (biasanya pouch laminasi).
  • Berminyak: pastikan material tidak mudah “tembus minyak”.
  • Asam/pedas: uji kompatibilitas (beberapa botol/tutup bisa menyerap bau).

Kalau kamu memilih kemasan plastik, biasakan membaca kode plastik (segitiga 1–7) sebagai pengetahuan dasar saat memilih kemasan makanan. Jangan pakai kemasan yang tidak jelas asal-usulnya.

Langkah 5: Susun label kemasan (wajib & opsional) + checklist

Label itu bukan cuma “biar cantik”. Minimal label harus membantu konsumen paham isi produk dan identitas produsen. Untuk pangan olahan, aturan detail bisa tergantung kategori dan izin, jadi gunakan checklist berikut sebagai starting point.

1) Checklist label praktis (untuk UMKM)

Elemen label Wajib untuk sebagian besar produk kemasan Contoh penulisan
Nama produk Ya “Keripik Pisang Original”
Berat bersih / netto Ya “Netto 100 g”
Komposisi Umumnya ya (tergantung produk) Pisang, gula, garam
Nama & alamat produsen Umumnya ya Nama UMKM + kota
Tanggal/kode produksi & kedaluwarsa Sangat dianjurkan/sering jadi syarat “Prod: 01/2026 • Exp: 04/2026”
Nomor izin edar (P-IRT / BPOM MD/ML) Tergantung jalur legalitas “P-IRT …” atau “BPOM RI MD …”
Info alergen / cara simpan Tergantung kategori & risiko “Simpan di tempat kering”

Kalau targetmu usaha makanan/minuman, sertifikat halal akan semakin relevan menjelang kewajiban. Mulai dari konsepnya dulu di Panduan Sertifikasi Halal UMKM 2026 agar kamu tidak salah langkah saat produk sudah ramai.

Catatan amanah (penting): jangan tulis klaim palsu di kemasan (misal “pasti sembuh”, “100% tanpa ini-itu” padahal tidak ada kontrol). Klaim yang tidak benar termasuk penipuan dan merusak keberkahan usaha.

Langkah 6: Siapkan file siap cetak (anti zonk)

Ini langkah yang sering bikin orang rugi: desain bagus di HP, tapi saat dicetak hasilnya blur/warna beda/terpotong.

1) Minta “template/dieline” dari vendor

  • Untuk pouch/box custom, vendor biasanya punya file pola (dieline) berisi: area lipatan, area lem, dan area aman desain.
  • Gunakan dieline itu agar tulisan/logo tidak masuk area lipatan atau kepotong.

2) Checklist file sebelum kirim ke percetakan

  • Ukuran canvas sesuai ukuran kemasan
  • Resolusi gambar cukup (jangan ambil logo kecil dari WhatsApp)
  • Warna & font konsisten
  • Pastikan ada “safe area” (margin aman) untuk teks penting

Langkah 7: Cetak sampel, QC, lalu produksi

1) Cetak sampel dulu (wajib, walau mahal sedikit)

  • Uji: ukuran pas, zipper/tutup berfungsi, tidak ensures, label terbaca jelas.
  • Uji: produk aman (tidak bau plastik menyengat, tidak tembus minyak, tidak lembap cepat).

2) QC batch produksi

  • Ambil 5–10 pcs acak: cek warna, potongan, lem, dan kebocoran.
  • Jika ada cacat berulang: stop pakai, komplain ke vendor dengan bukti.

Langkah 8: Hitung biaya packaging per produk (simulasi sederhana)

Tujuan hitung biaya packaging: kamu tahu batas maksimal biaya kemasan agar margin tetap sehat.

1) Rumus paling sederhana

  • Biaya kemasan per pcs = (harga kemasan + label + segel + outer pack) dibagi jumlah pcs.
  • Kalau jual online, tambahkan biaya pengamanan (bubble wrap/kardus) karena itu bagian dari sistem packaging.

2) Simulasi tabel biaya (contoh)

Komponen Harga per pcs Catatan
Standing pouch Rp1.200 Contoh harga, tergantung ukuran & vendor
Stiker label Rp300 Jika cetak 500–1.000 pcs biasanya lebih murah
Segel/inner seal Rp100 Opsional, untuk tampilan “lebih aman”
Bubble wrap (online) Rp400 Tergantung jarak & risk barang
Total biaya packaging Rp2.000 Ini yang kamu jadikan patokan margin

FAQ

1. Lebih baik packaging bagus dulu atau jual dulu?

Untuk UMKM, strategi aman: jual dulu dengan packaging rapi-minimal (bersih, jelas, tidak menipu), lalu upgrade setelah produk terbukti laku. Tapi untuk makanan kemasan, jangan mengorbankan keamanan: kemasan harus tetap layak dan bersih.

2. Apakah semua produk wajib punya izin BPOM?

Tidak selalu. Banyak produk rumahan cukup lewat jalur PIRT sesuai kategori. Namun jika produk masuk kategori tertentu atau dipasarkan luas, bisa wajib izin edar BPOM. Pastikan kamu cek jalurnya sesuai produk.

3. Kenapa label saya sering kepotong saat cetak?

Biasanya karena tidak memakai “safe area” atau ukuran file tidak sesuai template. Minta dieline/template dari vendor dan pastikan teks penting tidak dekat garis potong.

4. Boleh tidak pakai klaim “best seller”, “nomor 1”, “paling sehat”?

Kalau itu hanya gimmick tanpa dasar, sebaiknya hindari. Tulis klaim yang jujur dan bisa dipertanggungjawabkan agar amanah dan tidak memicu komplain.

5. Untuk produk makanan, apa minimal yang harus ada di kemasan?

Minimal: nama produk, netto, komposisi (umumnya), produsen (nama/alamat), tanggal/kode produksi, dan informasi lain sesuai kategori/izin. Jika sudah punya PIRT/BPOM, ikuti format penandaan yang diwajibkan.

Baca juga di Beginisob.com

Comments

Edukasi Terpopuler

Connect With Us

Copyright @ 2023 beginisob.com, All right reserved